Sunday, 18 August 2019

Solo Punya Mobil Listrik

Selasa, 13 Maret 2012 — 11:38 WIB
mobil-uns

SOLO kembali menghentak dengan kreasinya. Kalau gema mobil Esemka kreasi siswa-siswa SMK di Surakarta masih terasa, kini mahasiswa dari kota yang sama membuat mobil listrik. Mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) mulai membagun mobil berbahan bakar bioetanol dan mobil bertenaga listrik.

Mobil yang diberi nama Semar atau kepanjangan dari Sebelas Maret itu katanya mampu berlari 60 kilometer per jam itu mulai kemarin sudah dipamerkan di halaman kampus UNS, dalam rangka pameran industri kreatif. “Dengan kondisi batre penuh, untuk yang bertenaga listrik, mobil akan mampu bergerak antara 3-4 jam,” kata Dekan Fakultas Teknik UNS Solo Kuncoro Diharjo.

Mobil listrik karya mahasiswa UNS ini seukuran dengan GEA produksi (INKA) atau Tawson dari Lebak Banten. Kapasistas maksimalnya untuk empat penumpang. Kekhususan mobil ini bodinya menggunakan bahan komposit sehingga lebih ruingan, ramah lingkungan tetapi tetap kuat. “Bodi dibuat sendiri di laboratorium Fakultas Teknik UNS,” jelasnya.

BELUM SELESAI

Namun, saat dipamerkan kemarin, mobil tersebut belum selesai pengerjaannya. Kursi penumpang belakang belum terpasang. Meski begitu, banyak pengunjung yang tertarik untuk sekadar melihat.

Muhammad Himyadi, anggota tim pembuat mobil listrik menambahkan, Mobil listrik yang diberi nama Semar T (Sebelas Maret berbasis Teknologi Elektrik). Sedangkan untuk yang berbahan bakar bioetanol diberinama Semar G (Sebelas Marte berbasis Gas). Untuk yang Semar T dilengkapi dengan sistem komputerisasi untuk pengaturan energy.” Menurutnya, sistem komputerisasi tersebut fungsinya seperti ECU (electronic control unit) di sebuah mobil.

(winoto/us)

 

Foto Istimewa

  • Haryo Wibowo

    Karya yang sangat luar biasa, hendaknya pemerintah mendukung dengan sungguh-sungguh, mulailah dengan kendaraan umum seperti taksi, dengan didukung oleh didirikannya pusat-pusat pengisian listrik di setiap halte, pool, terminal dan tempat-tempat strategis lain sehingga mereka dapat mengisi (mencharge) baterai secara adekuat, dimulai dengan demikian energi listrik bisa diterapkan di mikrolet dan seterusnya, ini sangat mendukung masyarakat untuk menggunakan energi ramah lingkungan dan tidak bergantung pada minyak (BBM).