Singkong Jadi Sumber Investasi

Sabtu, 17 Maret 2012
ilussingkong

DI TANGAN seorang yang kreatif, singkong ternyata bisa menjadi sumber investasi agribisnis yang menggiurkan. Tanaman yang acapkali diidentikkan dengan ketertinggalan, kemiskinan, dan kekurangan pangan tersebut, jika dikelola dan diolah dengan baik, mampu menghasilkan nilai investasi yang setara dengan tambang emas sekalipun.

Ya, karena singkong di tangan pengelola PT Energi Karya Madani (EKM) bisa diubah menjadi aneka produk berdaya guna tinggi. Mulai dari bahan bakar kendaraan bermotor, bahan bakar kompor, ethanol untuk industri dan rumah sakit, pupuk organik, gula cair, hingga tepung terigu.

“Ibarat kata mulai dari urusan industri hingga pangan bisa diselesaikan dengan singkong,” ujar Ir. Endy Priyatna, pemilik PT EKM.

Untuk itu, PT EKM menawarkan investasi agribisnis khusus pengembangan dan pengelolaan singkong. Bentuk investasi yang ditawarkan berupa kepemilikan kebun singkong. Nilai investasi cukup dengan Rp 50 juta per 1 hektar kebun singkong. Caranya cukup dengan membeli sertifikat yang diterbitkan oleh PT EKM.

Harga per lembar sertifikat Rp 50 juta per 1 hektar kebun singkong untuk masa sekali panen yakni sekitar 10 bulan. Keuntungan dari kepemilikan sertifikat tersebut, investor dijamin mendapat untung, karena 1 hektar bisa menghasilkan 150 ton singkong.

“Hasilnya kami yang menampung dengan harga pembelian Rp 700 per kg. Jadi total investasi yang kembali ke pemilik sekitar Rp 105 juta, jauh di atas bunga defosito . Jika memiliki lebih dari satu sertifikat tinggal dikalikan saja,” lanjut Endy.

Investor sendiri tidak menanggung risiko kerugian apapun dari kebun singkong. “Jika gagal panen atau singkong dicuri orang maka kerugian investor akan kami ganti berikut keuntungannnya,” tambah Endy.

Saat ini, diakui Endy, PT EKM memiliki ribuan hektar kebun yang menampung ratusan orang pekerja di kawasan Cianjur, Bogor, dan Tangerang. Hasil panennya sebagian diekspor dan yang lainnya diolah menjadi aneka produk.

Menurut Endy, ide pengembangan kebun singkong bermula dari keinginannya mencari bahan alternatif pengganti bahan bakar minyak (BBM). Sebab selain jumlahnya yang semakin menipis, bahan bakar minyak juga tidak ramah lingkungan dan tidak bisa diperbaharui.

Namun pada perkembangan berikutnya, singkong tidak lagi sekedar menghasilkan bahan bakar untuk pengganti minyak. Tanaman ini justeru menawarkan lebih dari bioethanol. (faisal)

Teks: Endy Priyatna memperlihatkan singkong raksasa dari kebunnya. (faisal)

Tentang Kami

Poskota

Poskota, Poskotanews, Poskota Online adalah merk dagang milik PT. Media Antarkota Jaya. Poskota diterbitkan oleh PT. Media Antarkota Jaya sejak 15 April 1970 di Jakarta. Izin Usaha: SIUPP No. 0088/SK/Menpen/SIUPP A/7 1986 13 Maret 1986.