Monday, 19 November 2018

Tukang Gigi Dilarang Praktek Seperti Dokter Gigi

Sabtu, 17 Maret 2012 — 22:58 WIB
tukang173

JAKARTA (Pos Kota) – Kementerian Kesehatan melarang tukang gigi melakukan praktek seperti
dokter gigi. Berdasarkan pengamatan, Kementerian Kesehatan banyak menemukan tukang gigi memberikan layanan layaknya dokter gigi seperti perawatan ortodenti (kawat gigi), pencabutan, penambalan gigi, pembuatan gigi porselen dan lainya.

Kegiatan yang dilakukan tukang gigi tersebut dinilai bertentangan dengan kewenangan pekerjaan profesi yang diatur dalam peraturan Menteri Kesehatan No.339/1989 dan UU No.29/2004 tentang praktek kedokteran.

Pihak kementerian juga menemukan di lapangan kini bermunculan tukang gigi yang melakukan praktek tanpa izin. ”Haram hukumnya bagi tukang gigi untuk berpraktek seperti dokter gigi,” tegas Direktur Bina Upaya Kesehatan Dasar Kemenkes Dedi Kuswenda, kemarin,
di Jakarta.

Pemberian layanan kesehatan gigi tanpa disertai dengan kompetensi dan pengetahuan yang memadai bisa berbahaya bagi kesehatan pasien. Dedi mencontohkan, pemasangan gigi tiruan lepasan tanpa dilakukan pencabutan sisa akar terlebih dahulu dapat mengakibatkan abses (nanah).

Ada lagi temuan tukang gigi membuatkan gigi tiruan lepasan dari bahan arkilik yang diaplikasikan langsung dalam mulut pasien tanpa pencabutan sisa akar terlebih dahulu. Walhasil dari kejadian yang terjadi di Kudus ini, pasien mengeluhkan rasa terbakar, sakit dan bengkak pada gusinya.

Ada lagi tukang gigi melakukan pelayanan pemasangan kawat gigi yang menyebabkan gigi menjadi infeksi. Kejadian ini menurut Dedi terjadi pada kasus pasien di Bengkulu.

Berkaca dari hal itu, akhirnya Kemenkes mengeluarkan Permenkes No 1871 / 2011 yang meminta kepala dinas kesehatan di seluruh daerah melakukan penertiban dan pembinaan pada tukang gigi dalam rangka melindungi kesehatan masyarakat.

”Dinas kesehatan diharapkan melakukan sweeping pada praktek tukang gigi yang melanggar UU Praktek Kedokteran. Mereka juga harus membina tukang gigi agar bekerja sesuai dengan kewenangan dan ketrampilan mereka,” imbuh
Dedi.

Ketua Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) Zaura Rina Anggraeni mengatakan keamanan merupakan pertimbangan utama bagi penertiban tukang gigi.

Zaura menambahkan, masyarakat harus mengetahui bahwa praktek yang ditawarkan tukang gigi seperti pemasangan behel itu berbahaya. ”Memasang behel itu perlu ketrampilan dan izin khusus,” paparnya.

Dirinya mengatakan, saat ini ada sekitar 75 ribu tukang gigi di Indonesia,
22 ribu dokter gigi, 3 ribu teknisi gigi dan 15 ribu perawat gigi. Zaura menegaskan keluarnya peraturan ini bukan untuk melarang tukang gigi berpraktek. Yang dilarang, lanjut dia, adalah jangan sampai tukang gigi berpraktek seperti dokter gigi lantaran membahayakan kesehatan pasien. (aby)

Teks : Ketua Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) Zaura Rina Anggraeni menggelar jumpa pers didampingi Direktur Bina Upaya Kesehatan Dasar Kemenkes Dedi Kuswenda, kemarin,
di Jakarta. (Aby/b)

  • Bintangbehel

    bolehlah ditertibkan tapi klu mau dihapus mbok ya dipikirkan lagi. klu bisa rangkul para tukang gigi seperti apa yg sudah pernah dilakukan bidan2 didaerah yg sudah merangkul para dukun bayi.