Wednesday, 19 September 2018

Tak Sembarangan Bisa Masuk ke Baduy

‘Harus Seijin Jaro Pamarentah’

Rabu, 21 Maret 2012 — 14:45 WIB
sk

MENGUNJUNGI perkampungan Suku Baduy tidak semudah mengunjungi pemukiman lain di Banten. Saat kita masuk ke kawasan Baduy melalui Desa Ciboleger, kita diharuskan datang ke Kepala Desa Kanekes atau biasa warga Baduy menyebutnya sebagai Jaro Pamarentah yang bernama Jaro Dainah.

Setelah mengisi daftar tamu dan diizinkan untuk masuk kawasan Baduy, barulah kita meneruskan perjalanan menelusuri setiap kampung yang ada di Desa Kanekes.

Disetiap rumah warga itu, kita akan melihat para ibu –ibu warga Baduy yang sedang menenun berbagai kerajinan seperti selendang dan sarung serta ikat kepala. Hasil kerajian ibu-ibu warga baduy itu bisa kita beli sebagai oleh-oleh.
Kerajinan tangan karya warga Baduy ini tidak hanya hasil tenun, melainkan ada juga anyaman yang dibuat seperti tas, gelang, gantungan kunci dan lainya.

Saat kita berada di tengah – tengah permukiman Warga Baduy, kondisinya sangat sejuk dan tenang. Kita juga tidak akan banyak mendengar suara-suara hiruk pikuk orang. Karena, jika pada siang hari warga Baduy umumnya bayak pergi ke ladang.

Bahkan kita juga jangan pernah heran, saat kita datang ke Kawasan Baduy, warga Baduy sangat terlihat pendiam, padahal jika sudah akrab, mereka akan banyak bercerita dan menjawab yang kita tanyakan terkait budaya yang mereka jalankan.

Tidak setiap waktu pendatang bisa langsung masuk ke daerah Baduy Dalam seperti Cibeo, sebab jika terdapat acara adat para pengunjung yang datang hanya diperbolehkan masuk hingga ke Kampung Gejeboh atau sekitar satu jam perjalanan dari Ciboleger.

Di kampung gajeboh ini, kita akan menyaksikan jembatan bambu yang menyeberangi sungai dibuat oleh warga Baduy yang menyeberangi sungai. Jembatan bambu yang unik ini, hanya diikat dengan tali-tali yang terbuat dari ijuk.

(haryono/g)

Teks Gbr- Perkampungan Suku Baduy, tidak sembarangan bisa dikunjungi orang luar. (haryono)