Wednesday, 21 November 2018

Tetap Pertahankan Tenun Kain Tradisional

Rabu, 21 Maret 2012 — 14:50 WIB
tmt

MESKI menarik untuk dikunjungi, Egi Djanuiswati mengatakan, Baduy tidak menjadi target eksploitasi wisata di Provinsi Banten. Namun, Baduy sebagai bentuk kearifan lokal yang sangat menarik diperhatikan karena masyarakatnya selalu menjaga budaya secara turun menurun. “Warga Baduy juga sangat menjaga kelestarian lingkungan,” kata Egy.

Saat ini yang menjadi sasaran pengembangan di Kawasan Baduy khususnya di Baduy Luar yakni meningkatkan eksistensi masyarakatnya dengan cara meningkatkan kwalitas hasil produksi Tenun Baduy.

“Kita telah memberikan pelatihan kepada perajin di Baduy untuk meningkatkan hasil tenunnya agar dalam pewarnaan bisa awet, dan kuwalitas produksinya bisa meningkat,” ujar mantan Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata Provinsi Banten ini.
Bahkan di Desa Ciboleger atau desa perbatasan dengan kawasan Baduy telah dikembangkan berbagai fasilitas seperti internet, dan penataan fasilitas lainya yang mendukung kebutuhan tamu yang akan datang ke Baduy.

Meti, 20, wanita perajin tenun suku Baduy Luar mengatakan usaha menenun sudah dijalani secara turun temurun. Pengerjaan kain tenun dilakukan dengan peralatan tradisional dan manual karena penggunaan alat modern ditolak adat istiadat. Sehelai kain tenun, kata Meti, bisa selesai dikerjakan dalam waktu 3 atau 4 hari.

“Kalau dalam seminggu bisa mengerjakan 2 atau 3 kain ukuran 200 X 100 senti meter,” ujarnya.

Meti mengaku menjual hasil karyanya itu seharga Rp 300 ribu dengan ukuran kain 200 X 100 senti meter. Kain Baduy memiliki keunikan tersendiri, karena corak warna berbeda dengan masyarakat adat lainnya di tanah air. Dominasi warna tenun Baduy hitam dan biru sebagai khas yang menunjukan kecintaan pada adat.

(haryono/g)

Teks Gbr- Warga Baduy Luar, dalam sebuah acara pertemuan di permukiman mereka. (haryono)