Sunday, 23 September 2018

Melongok Komunitas Suku Baduy

Urang Kaluaran dan Urang Girang Lestarikan Tradisi

Rabu, 21 Maret 2012 — 14:52 WIB
bdy

PROVINSI Banten memiliki masyarakat tradisional yang masih memegang teguh adat tradisi yaitu Suku Baduy. Suku Baduy mendiami tanah adat kurang lebih sekitar 5.108 hektar di kawasan Pegunungan Keundeng, tepatnya di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten. Mereka memiliki prinsip hidup cinta damai, tidak mau berkonflik dan taat pada tradisi lama serta hukum adat.

Masyarakat Suku Baduy yang bermukim di Gunung Kendeng, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten, sampai saat ini tetap mempertahankan adat istiadatnya secara turun menurun. Masyarakat yang tidak mengikuti budaya moderenisasi ini, umumnya Bermukim di daerah aliran sungai Ciujung.

Letak permukiman masyarakat Baduy ini, sekitar 172 kilometer sebelah barat ibukota Jakarta, 65 kilometer sebelah selatan ibukota Provinsi Banten dan sekitar 38 kilometer sebelah selatan ibukota Kabupaten Lebak.

Masyarakat Baduy terdiri dari dua kelompok sosial, yaitu masyarakat Baduy Dalam (Tangtu) dengan ciri pakaian berwarna putih biru dengat ikat kepala putih dan masyarakat Baduy Luar (Panamping) dengan ciri pakaian berwarna hitam dengan ikat kepala bercorak batik warna biru. Bila Baduy Dalam menyebut Baduy Luar dengan sebutan Urang Kaluaran, sebaliknya Badui Luar menyebut Badui Dalam dengan panggilan Urang Girang atau Urang Kejeroan.

JAGA KELESTARIAN ALAM
Masyarakat Baduy Dalam memiliki karakteristik tersendiri. Konsep hidup mereka sepenuhnya tertumpu pada filisofi ‘Lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang disambung’ yang artinya panjang tidak boleh dipotong, pendek tidak boleh disambung.
Sedangkan masyarakat Baduy Luar, dalam kehidupannya sedikit lebih terbuka dibandingkan dengan masyarakat Baduy Dalam. Tetapi dalam menjalankan kehidupannya, mereka tetap patuh dan taat menjalankan perintah adat.

Dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, masyarakat yang memiliki konsep inti kesederhanaan ini tidak mengharapkan bantuan dari luar. Mereka secara mandiri hidup dengan cara bercocok tanam dan berladang. Selain itu mereka menjual hasil kerajinan seperti Koja dan Jarog (tas yang terbuat dari kulit kayu), tenunan berupa selendang, baju, celana, ikat kepala, sarung, golok, parang dan berburu.

Masyarakat Baduy, dalam menjalankan kehidupannya tidak hanya mempertahankan adat mereka saja, tetapi mereka juga sangat menjaga kelestarian hutan yang ada di kawasanya. Untuk itu, sebanyak 125 sumber mata air, yang umumnya mengalir ke Sungai Ciujung tetap terjaga.

Masyarakat Baduy sangat taat pada pimpinan yang tertinggi yang disebut Puun. Puun ini bertugas sebagai pengendali hukum adat dan tatanan kehidupan masyarakat yang menganut ajaran Sunda Wiwitan peninggalan nenek moyangnya.
Setiap kampung di Baduy Dalam dipimpin oleh seorang Puun, yang tidak boleh meninggalkan kampungnya. Pucuk pimpinan adat dipimpin oleh Puun Tri Tunggal, yaitu Puun Sadi di Kampung Cikeusik, Puun Janteu di Kampung Cibeo dan Puun Kiteu di Cikartawana. Sedangkan wakilnya pimpinan adat ini disebut Jaro Tangtu yang berfungsi sebagai juru bicara dengan pemerintahan desa, pemerintah daerah atau pemerintah pusat.
Di Baduy Luar sendiri mengenal sistem pemerintahan kepala desa yang disebut Jaro Pamerentah yang dibantu Jaro Tanggungan dan Baris Kokolot.

Keberadaan masyarakat Baduy sendiri sering dikaitkan dengan Kerajaan Pajajaran di Bogor, Jawa Barat pada abad 15 dan 16. Konon dikabarkan pada saat itu, Kerajaan Pajajaran yang memiliki Pelabuhan Pakuwan Pajajaran, atau yang sekarang dikenal sekarang ini sebagai Pelabuhan Sunda Kelapa, termasuk alamnya perlu diamankan.

Tugas pengamanan ini dilakukan oleh pasukan khusus untuk mengelola kawasan berhutan lebat dan berbukit di wilayah Gunung Kendeng tersebut. Keberadaan pasukan ini yang diyakini sebagai cikal bakal suku Baduy.

Ada pula yang mempercayai awal keberadaan suku Baduy, merupakan sisa-sisa pasukan Pajajaran yang setia pada Prabu Siliwangi. Mereka melarikan diri dari kejaran pasukan Sultan Banten dan Cirebon. Namun pada akhirnya, mereka dilindungi Kesultanan Banten dan diberi otonomi khusus.

(haryono/g)

Teks Gbr- Salah satu perkampungan di Baduy, yang komunitas masayarakat masih memegang teguh tradisi dan adat istiadat mereka.(haryono)