Sunday, 21 October 2018

Buku Chrisye: Kesan di Mata Media, Sahabat dan Fans

Kamis, 29 Maret 2012 — 12:50 WIB
chrisye-sub

JAKARTA (Pos Kota) – Tanpa terasa lima tahun sudah legenda musik Indonesia Chrisye meninggal. Itu karena karya-karyanya masih begitu lekat di hati wartawan dan penggemarnya. Karya-karya yang tak pernah mati. Maka, untuk memperingati kepergian sang maestro musik pop itu, diluncurkan buku bertajuk Chrisye: Kesan di Mata Media, Sahabat dan Fans.

Buku tersebut disusun oleh  Nini Sunny, Dudut Suhendra (fotografer), Muller Mulyadi (design graphis), dan rekan-rekan media yang pernah  menulis perjalanan karir dan hidup Chrisye.

Menurut produser pelaksana Ferry Musrsyidan Baldan, buku tersebut adalah sebuah buku biografi tentang seniman besar bernama lengkap Chrismansyah Rahardi dari sudut pandang berbeda.

“Ide awal buku ini diterbitkan atas atas kekaguman, cinta, dan respek terhadap terhadap sang legendaris,” katanya saat ditemui di Plasa FX Sudirman, Jakarta, kemarin. “Seorang legenda seperti Chrisye tidak boleh hilang dari ingatan. Dia boleh meninggal karena takdir, tapi nama besar dan karya-karyanya  tidak akan pernah mati,” katanya lagi.

Damayanti Noor, istri almarhum Chrisye, mendukung pembuatan buku tersebut. Dia juga senang karena penggemar dan wartawan tak pernah melupakan suaminya. Apalagi, katanya, semasa hidup Chrisye sangat dekat dengan fans dan menghormati wartawan.

“Saya bangga dengan fans Chrisye dan para awak media, meski Chrisye sudah meninggal selama lima tahun tapi masih ada orang yang peduli dengan almarhum suami saya,” katanya.

Sementara Pramono Anung yang mengaku sebagai  pengagum Chrisye dari jauh, mengenal Chrisye sejak lama, ketika masih di komunitas Guruh Soekarno Putra. Dia memiliki semua album Chrisye.

“Chrisye  adalah pribadi yang tak pernah tergantikan,” imbuhnya.

Begitu pula dengan penyair Taufik Ismail, yang mengakui, Chrisye adala musisi besar. Taufik mengungkapkan, pada 15 tahun lalu,  dirinya  ditelepon Chrisye, yang memintanya dibuatkan lirik untuk sebuah lagu.

“Saya merasa tersanjung ditelepon. Dia bilang sudah punya lagu, tetapi belum ada liriknya. Dia meminta saya membuatkannya dan memberi waktu sebulan,” cerita Taufik. “Ternyata itu sangat sulit. Pada Minggu ke empat menjelang deadline, saya merasa tidak sanggup. Karena lagu Chrisye terlalu bagus buat lirik saya. Hingga akhirnya, ketika saya sedang membaca surat Yasin, pada malam Jumat, lahirlah ide itu. Hingga akhirnya, lahirlah lirik lagu ‘Ketika Tangan dan Kaki Bicara’. Itu pengalaman saya dengan almarhum,” tuturnya.

Chrisye meninggal  pada 30 Maret 2007, karena sakit. Chrisye memang telah meninggalkan panggung musik Indonesia, tapi lagu-lagunya terus mengalun di radio, televisi, juga dinyanyikan para penyanyi lain.

(anggara/sir)

Teks Gbr- Damayanti Noor dan Ferry Musrsyidan Baldan. (anggara)