Wednesday, 19 September 2018

Komunitas Perajin Sandal Kebarepan Tergerus Zaman

Rabu, 4 April 2012 — 11:53 WIB
iba

BICARA Cirebon mungkin orang akan selalu teringat hasil kerajinan rotan-nya yang sudah mendunia. Padahal Cirebon sebenarnya menyimpan banyak kerajinan atau cinderamata yang cukup mumpuni.

Satu diantaranya adalah kerajinan home industri “Sandal Kebarepan”. Dinamakan demikian karena basis lokasi komunitas home industrinya terletak di Desa Kebarepan Kecamatan Plumbon Kabupaten Cirebon Jawa Barat. Tapi keterkenalan Sandal Kebarepan tersebut kini sudah berangsur hilang atau pudar  tergantikan dengan industri rotan-nya.

Tapi, jika menengok jauh ke belakang, terlebih disaat masa keemasannya, Sandal Kebarepan menjadi sebuah industri rumahan yang sangat mumpuni. Tidak hanya mampu memberdayakan masyarakat sekitar yang menggantungkan hidup dari pekerjaan membuat sandal, juga mampu mengangkat nama Cirebon ke se antero nusantara. Mengingat produksi sandal-nya sudah menyebar ke berbagai propinsi di Indonesia. Kondisi ini jelas menjadikan Sandal Kebarepan sebagai ikon Cirebon, selain rotan tentunya.

Karena famor Sandal Kebarepan itulah yang kemudian mengilhami pembuatan sandal “raksasa” dengan ukuran sangat besar. Sandal raksasa itu dipajang disisi Jalan Pantura saat memasuki Desa Kebarepan. Dengan adanya sandal raksasa itu dengan sendirinya masyarakat luar yang melintas jalur itupun berpikir jika mereka berada di daerah penghasil sandal. Apalagi etalase-etalase yang memajang berbagai bentuk dan corak sandal, tersedia di sisi jalur pantura tersebut. Jangan heran jika kemudian banyak warga yang melintas sengaja memberhentikan kendaraan hanya untuk membeli sandal-sandal buatan wong Cirebon itu.

HIDUP SEGAN MATI TAK MAU
Lalu bagaimana sekarang? Sebuah pertanyaan yang sangat menyesakkan untuk dijawab. Ibarat pepatah, nasib komunitas perajin di sana ibarat, Kerekap tumbuh di batu, hidup segan mati tak mau. Masa kejayaan Sandal Kebarepan hampir  hilang. Etalase-etalase produk rumahan itu kini sudah bisa dihitung dengan jari. Sandal raksasa yang menjadi simbol kejayaan-nya itupun sudah tidak tau rimbanya. Satu persatu usaha komunitas home industri di sana bertumbangan.

Pihak Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Cirebon mencatat data penurunan usaha sandal tersebut mencapai 40 persen dari sekitar 200 home industri pembuatan  sandal yang pernah tumbuh di sana.
Memang banyak paktor penyebab runtuhnya kejayaan Sandal Kebarepan. Selain soal kendala permodalan, pasar-nya pun kini sudah tergerus akibat dilibas  produk industri besar dengan embel-embel merek beken. Kalah promosi, membuat posisi sandal kebarepan kian terjepit. Gencarnya pengiklanan yang tidak dapat dilakukan pengusaha kecil daerah penghasil sandal lokal itulah yang kemudian berakibat makin meredupnya kans Sandal Kebarepan.

Masyarakat pun punya kebebasan untuk memilih. Dan yang mampu membaca kebutuhan pasar-lah yang bisa bertahan. Karenanya tak heran jika kemudian masyarakat pun mulai beralih membeli sandal “bermerek” ketimbang sandal lokalan. Lagi-lagi soal trendi (modis) dan “terkenal” yang menjadi dasar kenapa kemudian banyak orang yang membeli sandal “bermerek” tersebut.
Dampaknya sudah bisa dibaca, sandal lokalan (sandal kebarepan misalnya) kalah bersaing jika disandingkan dengan produk sandal keluaran pabrikan tersebut. Posisi sandal lokalan menjadi anti klimaks, “mati” di daerahnya sendiri.

Campur tangan pemerintah daerah setempat jelas sangat dibutuhkan komunitas perajin sandal. Terlebih maraknya ekspansi produk luar yang masuk Cirebon. Pelatihan dan pembinaan jadi solusi yang bisa diberikan agar industri rumahan ini tetap dapat bertahan dan tidak terus bertumbangan.

(darman/g)

Teks Gbr- Ibu rumah tangga dan suami, perajin sandal di Desa Kebarepan, Plumbon, Cirebon.(darman)