Tuesday, 18 September 2018

Kapolda Metro Jaya Main Ludruk di TIM

Senin, 9 April 2012 — 13:16 WIB
ludruk

JAKARTA (Pos Kota) – Di tengah kesibukannya sebagai orang nomor satu di kepolisian Jakarta, Kapolda Metro Jaya Irjen Untung S Rajab tetap menaruh perhatian pada kesenian tradisional, terutama Ludruk. Hal itu dibuktikan  dengan keikutertaannya berakting di pagelaran Ludruk Kartolo Cs,  di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki Jakarta, Kamis dan Jumat (12-13 April 2012) pukul 20.00 WIB mendatang.

“Saya akan tampil dua malam berturut-turut. Dalam lakon ‘Sarip Tambak Oso’, saya berperan sebagai Jogoboyo atau Kepetengan,” ujar Untung saat ditemui di Hotel Sahid, jakarta.

Kemudian, di malam berikutnya, dalam lakon ‘Sawunggalih’, Untung akan berperan sebagai Tumenggung Jayengrono. Pementasan Ludruk tersebut  disutradarai oleh Suwito Harry Sasmito.

“Saya dari kecil di Surabaya, jadi Saya tahu betul kesenian ludruk ini. Tapi baru kali ini saya main sandiwara,” imbuhnya.

Untung S Rajab akan beradu akting dengan seniman ludruk lainnya seperti Cak Kartolo, Cak Wito, Cak Jamil, Cak Sapari, Nurbuat dan Rohana. Pertunjukan itu juga didukung para artis, seperti Renny Djajusman, Krisna Mukti, Ananta Kusuma, Uut Permata Sari, Ratna Listy dan belasan artis lainnya.

Menurut Untng,  di seluruh wilayah Indonesia mempunyai kesenian tradisional yang khas. Hal ini menjadi semacam identitas, jati diri dan media ekspresi dari masyarakatnya.

“Demikian juga, kesenian tradisional seperti Ludruk merupakan kekayaan budaya daerah Jawa Timur. Sekaligus kekayaan bangsa, yang memang punya nilai amat tinggi. Mengingat kesenian tradisional itu kekayaan daerah, maka kekayaan itu harus dilestarikan dan diwariskan pada generasi muda,” katanyazm

“Sebagai warga Jawa Timur dan seluruh generasi muda Indonesia, hendaknya selalu melestarikan dan menjaga eksistensi budaya Indonesia. Salah satunya melalui kesenian Ludruk, yang merupakan kesenian atau tradisi warisan para leluhur. Melestarikan seni Ludruk berarti juga melestarikan kebudayaan Indonesia. Jangan sampai kekayaan budaya kita ini diklaim oleh bangsa lain,” kata petinggi polisi ini.

Menurut dia, kesenian Ludruk tak sekadar kesenian rakyat, tetapi memiliki pesan moral dalam setiap pementasannya,

“Ludruk merupakan pertunjukan rakyat yang sifatnya cerita humoris. Tetapi memiliki nuansa perlawanan terhadap kekuasaan di masa penjajahan Belanda. Kisah-kisah semacam ‘Sarip Tambak Oso’ adalah kisah heroisme rakyat Jawa Timur dan Madura dalam melawan VOC Belanda,” paparnya.

(anggara/sir)