Friday, 20 September 2019

Menyekat Geng Motor

Selasa, 10 April 2012 — 9:46 WIB

ULAH geng motor perlu mendapat perhatian ekstra aparat keamanan. Dalam tiga hari terakhir sudah tiga kali geng motor melakukan aksi kekerasan yang tergolong brutal.

Harian ini mencatat pada ketiga peristiwa itu, dua orang tewas, 7 lainnya luka – luka kena tikam atau sabetan senjata tajam. Aksi tersebut terjadi di tiga tempat terpisah selama tiga hari berturut – turut. Pada 6 April 2012 di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan yang merenggut satu korban jiwa. Esok harinya , 7 April 2012 di Sunter, Jakarta Utara juga menewaskan satu orang dan pada 8 April 2012, geng motor membakar satu unit sepeda motor dan menyerang beberapa pemuda di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat.

Jika melihat waktu kejadian , semuanya terjadi pada dini hari antara pukul 01:00 hingga pukul 03:00. Kelompok yang melakukan aksi kekerasan umumnya masing berusia remaja, begitu korban penyerangan.

Polisi masih menyelidiki permasalahan apa yang menjadi latar belakang aksi penyerangan oleh geng motor kepada geng lainnya. Dugaan sementara ada keterkaitan dengan peristiwa sebelumnya yang membuat satu kelompok merasa tersinggung.

Kita berharap motivasi dan latar belakang penyerangan geng motor segera terungkap untuk dijadikan bahan kajian sebelum mengambil kebijakan lebih lanjut. Sambil menunggu solusi jitu,menjadi kewajiban kita bersama, terutama aparat keamanan segera menyekat aksi geng motor tidak semakin meluas.

Selama ini geng motor lebih dikenal di daerah Bandung, Jawa Barat. Bahkan, aksi geng motor di sana sudah menjurus kepada tindak kriminal seperti melakukan perampasan motor.

Boleh jadi aksi geng motor ibarat penyakit menular. Artinya aksi serupa bisa diikuti oleh siapa saja dan terjadi di mana saja. Jika mengamati aksi geng motor di Bandung,  pada awalnya sebuah kelompok yang ingin diakui eksistensinya oleh kelompok lainnya. Tak heran, jika masing- masing geng motor ingin tampil kebih kuat agar disegani dan tak tertandingi oleh kelompok lainnya.

Sayangnya kekuatan yang diperoleh bukan memacu kendaraan di arena balap, tetapi melakukan aksi kekerasan dengan menyerang geng lain yang dianggap sebagai pesaing.

Banyaknya lokasi trek- trekan di wilayah Jakarta menjadi embrio yang perlu diwaspadai. Karena tidak tertutup kemungkinan disusupi aksi geng motor yang ingin menguji nyali bukan dengan memacu kendaraan, tetapi memancing emosi dan perselisihan.

Langkah berikut melokalisir aksi geng motor baik tempat maupun pesertanya. Ini dimaksudkan untuk menyekat agar geng motor di satu lokasi tidak saling bersinggungan dengan lokasi lainnya.Sebab, ketersinggungan inilah yang dapat berakibat kepada perselisihan dan tawuran.

Ke depan, bagaimana mencarikan tempat agar geng motor yang penuh nyali ini dapat mengekspresikan diri kepada perbuatan yang positif  dan penuh kreatif. (*)