Tuesday, 25 September 2018

Lezatnya Tongseng Terasa di Lidah

Jumat, 13 April 2012 — 11:32 WIB
tongseng-kambing

SEJAK dulu, banyak yang meyakini, daging kambing dapat meningkatkan vitalitas. Karenanya, banyak pula masyarakat yang menyukai masakan dengan bahan dasar daging kambing. Salah satu masakan olahan daging kambing yang banyak digemari masyarakat ialah tongseng. Terbukti, banyak warung makan ataupun pedagang Kaki-5 yang menyajikan resep yang sudah turun temurun berasal dari nenek moyang bangsa Indonesia tersebut.

Salah satu warung makan yang menawarkan resep tongseng seperti, terdapat di Jl Pesanggrahan indah Kodam, Bintaro, Jakarta Selatan, milik Mbah Suparni alias Mbah Ani. Wanita yang telah berumur 71 tahun itu sudah bergelut dengan usaha tonseng sejak 45 tahun lalu. “Saya mewarisi resep tongseng dari almarhum suami yang asli Solo,” ujar Mbah Ani.

Warung yang didominasi dengan cat berwarna biru itu memang terlihat tidak terlalu besar. Hanya ada dua meja panjang dengan kursi panjang yang akan membuat pengunjung duduk saling berhadapan. Satu unit kipas angin pun menempel di dinding untuk sekadar mengganti udara yang bercampur dengan asap yang beraroma tongseng.

Tapi, jangan ditanya untuk soal rasa dari tongseng buatan langsung tangan mbah Ani. Meski hanya berjualan tongseng di warung yang sederhana, tapi rasa tongseng kambingnya sangat enak. Daging kambingnya juga empuk dan tidak bau. Rasa kuah yang manis dengan kombinasi gurih sangat terasa di lidah.

Dengan usia yang lebih dari setengah abad itu, Mbah Ani masih kuat mengipas anglo yang menjadi alat masaknya. “Ya kadang dibantu dengan adik saya, dan anaknya,” kata perempuan asal Pacitan, Jawa Timur tersebut.

Dengan harga Rp 20 ribu per porsi berikut nasi, tentunya setara dengan kelezatan tongseng Mbah Ani. Tak heran, dalam sehari, warung tongseng milik Mbah Ani bisa menghabiskan 8-10 kilogram daging kambing.

Bagi yang penasaran mencicipi resep tongseng asli Solo milik Mbah Ani, perlu dicatat, warung ini tidak akan pernah buka melebihi pukul 16.00. “Kita buka jam 9 pagi, ya paling sore jam 3 sudah habis,” kata Mbah Ani.

Pelanggan warung ini bukan hanya dari daerah sekitar saja, bahkan ada yang sengaja datang jauh-jauh karena rindu dengan rasa tongseng Mbah Ani. “Saya pertama makan tongseng di sini sejak 5 tahun lalu, dan hampir setiap minggu menyempatkan waktu kemari untuk makan tongseng Mbah Ani karena rasanya beda sama tongseng lain,” tutur Suyitno, warga Cikokol, Tangerang.

Pendapat serupa diungkapkan Alisa, warga Petukanganutara yang datang bersama teman-temannya. “Memang awalnya dulu saya tidak suka masakan daging kambing karena bau. Tapi, pas coba sekali karena ajakan teman di sini, jadi ketagihan,” ungkapnya.

Di warung miliknya, Mbah Ani tidak hanya menyediakan menu tongseng, dirinya juga menawarkan menu gulai dan sate kambing. Tak hanya itu, sate ayam pun disediakan di warung miliknya ini. Nah, tertarik dengan tongseng Mbah Ani?

(beritajakarta.com/sir)