Friday, 19 April 2019

Menempa Kejujuran

Senin, 16 April 2012 — 9:31 WIB

MULAI  hari ini sebanyak 119.943 siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Jakarta mengikuti Ujian Nasional (UN). Berbeda seperti tahun – tahu sebelumnya, kali ini kontroversi soal penyelenggaraan UN tidak terjadi lagi.

Situasi semacam ini patut dipertahankan karena dapat  menambah suasana makin kondusif. Dengan mencipakan suasana kondusif berarti kita semua telah membantu suaksesnya pelaksanaan ujian nasional.

Suasana kondusif tentunya bukan sekadar diartikan aktivitas masyarakat di luar lingkungan sekolah. Yang lebih utama adalah suasana nyaman di ruang kelas sehingga siswa bisa mengerjakan soal dengan tenang tanpa tekanan.
Kita sepakat pengawasan ujian perlu dilakukan secara ekstra ketat agar tidak terjadi kebocoran soal – soal ujian, tetapi keramahan para pengawas bukan hal yang harus dikesampingkan.

Justru keramahan dan kelembutan pengawas memberikan panduan kepada siswa akan sangat membantu kelancaran dan suksesnya UN. Jangan ciptakan suasana mencekam dan tegang bagaikan perang.

Di sisi lain, orangtua, guru dan pengawas perlu menanamkan nilai – nilai kejujuran kepada peserta ujian. Kita sadar kejujuran harus ditanamkan sejak dini, tetapi UN bagian dari sebuah proses penempaan nilai – nilai kejujuran.
Ini perlu karena UN bukan sebatas menguji seberapa besar daya serap siswa atas apa yang telah dipelajarinya.

UN juga dapat digunakan untuk melihat seberapa jauh proses belajar siswa berjalan. Artinya seberapa baik guru mengajar. Agar penilaian menjadi obyketif, guru jangan terpancing membantu anak didiknya mengerjakan soal agar lulus dengan nilai baik. Biarlah para siswanya bekerja sendiri untuk memperoleh hasil apa adanya.

Dengan hasil apa adanya ini dapat dijadikan alat ukur oleh para guru atau sekolah apakah metode pengajaran atau ilmu yang diajarkan telah berhasil diserap para siswa. Jika hasilnya minim berarti perlu ada evaluasi guna perbaikan tahun berikutnya.

Sebab, rendahnya nilai kelulusan di sebuah sekolah bukan berarti ketidakmampuan siswa mengerjakan soal UN. Boleh jadi rendahnya daya serap siswa terhadap materi pelajaran yang telah diterima akibat pola penyampaian materi pelajaran yang tidak tepat.

Karena itu, kejujuran tidak hanya dibebankan kepada siswa, guru dan sekolah pun perlu merenung diri untuk terus mengaplikasikan kejujuran. Keteladanan  semacam inilah yang tidak secara langsung dapat menempa kejujuran siswa. Sebab, UN bukan akhir dari sebuah proses, tetapi awal dari sebuah proses, termasuk dalam membentuk dan menegakkan kejujuran dan rasa tanggungjawab. (*).