Wednesday, 24 April 2019

Monster Guncang Kota

Rabu, 18 April 2012 — 9:40 WIB

KOTA kita sedang diguncang monster. Mahluk menakutkan itu bergerombol-gerombol pada malam hari di 80 lintasan jalan raya mengendarai sepeda motor. Ada yang adu balap, merampok, bahkan ada pula yang membunuh.

Badan Intelijen Negara (BIN) mencium kemungkinan oknum aparat ikut terlibat. Karena itu pihaknya mengimbau komunitas sepeda motor agar waspada dimasuki penyusup.

Monster itu tiada lain kita maksudkan adalah geng motor. Kebrutalannya di Jakarta menewaskan satu korban dan lainnya luka-luka. Sampai sejauh ini, polisi belum berhasil menangkap pelaku antara lain menandai diri dengan pita kuning.

Turun tangannya BIN menjadi petunjuk bagi kita bahwa anarkisme geng motor  termasuk di Jakarta dan Bandung bukan kriminalitas biasa.

Sesungguhnya ada apa di balik semua ini? Mungkinkah mengandung muatan politik? Sambil menunggu janji BIN mendalami fenomena yang sedang terjadi, ada baiknya kita membuka lembaran cerita serupa di negara lain.

Sekitar tahun 30-an di Amerika Serikat menjamur penghobi motor gede. Mereka ramai-ramai mendirikan motorcycle club (MC). Perjalanan waktu, jumlahnya mengkrucut menjadi 5 geng paling berpengaruh terdiri dari Hell’s Angels, Mongols, Outlaws, Bandidos  dan Warlocks.

Mata dunia menyoroti Amerika Serikat secara tajam. Bukan hanya karena MC sering bentrok mati-matian, tapi mereka menjadi bagian dari sindikat bisnis narkoba. Jaringannya tembus hingga ke  Kanada, sejumlah negara  Eropa dan Australia.

Sebelum nasi menjadi bubur atau gerombolan di dalam negeri itu menjadi bagian dari sindikat geng motor tingkat dunia, dibutuhkan kesigapan aparat. Siapapun gembongnya, oknum TNI, Polri atau begundal sipil layak dihukum setimpal.

Kita percaya turun tangannya BIN dapat memberi masukan kepada kepala negara guna mengakhiri monster kota. Bila kemudian ditemukan ada agenda politisi tertentu, segeralah ditumpas.

Kita saksikan Polri dibantu TNI mampu melacak dan menangkapi teroris. Jika hanya menangani geng motor saja tak punya ketegasan, apa kata dunia?

Lagi pula mumpung nasi belum menjadi bubur. Mumpung monster itu belum mewabah hingga ke desa-desa, segeralah bertindak!***