Thursday, 25 April 2019

Kelon di Dalam Salon

Kamis, 19 April 2012 — 10:09 WIB
dia-19

JIKA lelaki mengelola salon, biasanya lelaki yang setengah lelaki alias waria. Tapi ternyata Ranto, 36, benar lelaki tulen, asli dari pabrik. Buktinya, di tempat salon itu dia sempat ngeloni Warsih, 32, yang berstatus masih bini orang. Tentu saja digerebek, bahkan kemudian diusir dari kampung arena mesum.

Salon umumnya dikelola kaum wanita. Jika lelaki mengelola juga, biasanya dia tak jelas status gendernya. Jangan salah, ini bukan gender bagian dari gamelan Jawa, tapi gender dalam arti jenis kelamin. Artinya, jika lelaki ya berambut pendek, kalau perempuan ya berambut panjang. Tapi maaf, di era gombalisasi ini sekarang rambut tak bisa dibuat patokan, karena perempuan cantik banyak juga berambut ala lelaki bahkan seorang menteri.

Ranto, adalah seorang lelaki tulen. Tapi karena cari kerja susah, dia kemudian membuka salon dalam bidang tata rambut pria dan wanita. Maksudnya, potong rambut lelaki mahir, memotong rambut untuk perempuan juga bisa. Pendek kata, meski dia lelaki tulen Ranto non Edi Gudel ini juga bisa menangani pekerjaan wanita. Apa lagi ngerjain wanita, sangat hobi dia!

Lho kok begitu? Ya memang begitulah kelakuan Ranto dalam sifat aslinya. Di kampung Senik Desa Bumirejo Kecamatan Lendah Kabupaten Kulon Progo, dia sebenarnya manusia pendatang baru. Katanya, asli dari Kretek Bantul, tapi Pak RT sendiri tak pernah bisa melihat KTP-nya karena saat ditanyakan Ranto beralasan hilang. “Diurus riyin, mangke lajeng pindhah mriki (urus dulu, nanti lalu pandah sini),” kata Pak RT. Tapi Ranto ternyata cuma nggah-nggih ra kepanggih (nggak ada buktinya).

Salon Ranto yang dibuka di kios Pasar Legi, Senik, cukup laris. Dari sini pula dia kemudian kenal baik dengan salah satu pelanggannya, Ny. Warsih, warga Tempel masih desa yang sama. Gara-gara kenal dengan perempuan warga Tempel inilah, Ranto malah jadi nempel terus macam perangko. Maksudnya, jika situasinya mantap terkendali, wanita itu dipersilakan duduk berlama-lama, bahkan nginep juga boleh.

Ranto tahu bahwa Warsih masih punya suami yang sah. Tapi karena rumahtangga mereka tidak dalam kondisi yang kondusif, dia lalu mencoba cari kesempatan dalam kesempitan, yang ujung-ujungnya untuk mencari tempat-tempat yang sempit. Maklumlah, Ny. Warsih punya wajah dibuang sayang. Cantik tidak, jelek juga bukan. Bodinya itu lho, jan sekel nan cemekel (enak dipegang).

Warsih juga tahu akan aspirasi urusan bawah si pemilik salon. Tapi karena dia juga ada filing, jika tangan Ranto lumayan nggrathil saat dikunjungi, dia juga tidak menepiskannya. Bahkan jika situasinya lagi-lagi sangat mantap terkendali, di salon itu pula kemudian keduanya melakukan hubungan intim bak suami istri. “Asyik kan Bleh, salon bisa untuk kelon…..,” kata setan memberi semangat.

Rupanya warga lama-lama tahu akan aksi mesum Ranto – Warsih. Sehingga beberapa hari lalu saat Warsih masuk kios Ranto dan lama tak kunjung keluar, penggerebekan dilakukan. Keduanya benar-benar tertangkap basah, macam burung merpati sedang giring templek (siap kawin). Tak ayal keduanya lalu diarak ke balai desa. Masalahanya lalu diserahkan ke Polsek. Bahkan lebih dari itu, Ranto tidak boleh lagi tinggal di kampung Senik, karena hanya bikin cemar dan kotor desa saja.

Bangkrut dong, salonnnya. (HJ/Gunarso TS)

  • joko_mawon

    salon ranto ini pasti juga ada perawatan crembut, nga cmn creambat aja.