Tuesday, 25 June 2019

Membunuh Maling Kambing

Kamis, 19 April 2012 — 10:09 WIB

PENGADILAN jalanan kembali menelan korban jiwa. Pria berusia 34 tahun tewas dikeroyok massa di Perumahan Sukaraya Regency, Bekasi hanya karena kepergok mencuri seekor kambing.

Prilaku serupa itu sebelumnya menimpa pria berusia 50 tahun di Kampung Babakan, Kelurahan Cimahpar, Bogor Utara. Lelaki naas itu ketangkap tangan hendak mencuri ayam. Massa ngamuk. Sekujur tubuh tersangka benyok hingga nyawanya melayang.

Kasus pembunuhan serupa itu pada tempat lain terlalu panjang untuk diungkap pada ruang terbatas ini. Intinya, kita menggaris-bawahi kesewenang-wenangan terhadap sesama mahluk yang paling dimuliakan Tuhan YME adalah perbuatan biadab.

Maling kambing atau pencuri ayam adalah manusia. Lagi pula mereka itu wong cilik. Sebagai bangsa bermartabat, negara megharamkan perbuatan main hakim sendiri. Serahkan saja pelakunya kepada penegak hukum.

Ajakan ini sedikut pun tidak bermaksud membenarkan pencuri ayam atau maling kambing. Pengeroyokan hinga tewas tak sebanding dengan kadar perbuatannya.

Lebih pas fokus perhatian diarahkan kepada penegak hukum yang sedang menangani kawanan perampok uang negara. Ingat, koruptor bukan dari kalangan wong cilik. Uang yang dikeruknya dalam tempo setahun berdasarkan hasil investigasi Badan Pemeriksa Keuangan mencapai Rp132 triliun. Nilai itu setara dengan 132 juta ekor kambing. Seekor dihargai Rp1 juta.

Sampai hari ini satupun belum ada koruptor divonis mati. Justru sebaliknya, sebagian dibebaskan dari dalam penjara melalui proses remisi. Sebagian lainnya tetap leluasa cengar-cengir menikmati kemewahan.

Uang yang mereka korup adalah harta rakyat. Akibatnya, program pemerintah menyejahterakan kehidupan kita berjalan sempoyongan. Mirip orang mabuk miras.

Argumen yang kita kemukakan ini bertujuan mendorong khalayak agar menghindari perbuatan main hakim sendiri, apalagi terhadap maling kambing. Sebaiknya kita kompak tiada jera mendesak polisi, jaksa, KPK  dan hakim untuk menghukum mati koruptor kelas kakap.

Sebelum memvonis pelaku atas nama Tuhan YME, hakim layak ingat nasib jutaan wong cilik yang hidup miskin di gubuk derita. Itulah keadilan yang kita harapkan!***