Friday, 19 July 2019

Pertarungan Konyol

Sabtu, 21 April 2012 — 10:43 WIB

TERJEBAK  di lokasi tawuran antar-pelajar sangat mengerikan. Wajah manis generasi penerus berseragam putih-abu-abu atau putih-biru  itu sama dengan anggota keluarga kita yang ada di rumah. Di balik keluguannya tak dinyana ada amuk membara.

Kelompok yang dianggap lawan, mereka uber sambil mengacung-acungkan senjata tajam. Jalan raya berubah menjadi arena perang. Bak-bik-buk kontak fisik massal tak terelakan. Ada yang terjengkang, terpincang-pincang, banyak pula yang tunggang-langgang.

Peristiwa serupa itu di Jakarta dan sekitarnya belakangan ini bagai menjadi adegan penutup Ujian Nasional (UN) tingkat SLTA. Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Untung S. Radjab memberi perhatian istimewa ditandai dengan agendanya bertemu dengan Menteri Pendidikan M. Nuh untuk bertukar-pikiran.

Orangtua mana tak ngilu menyaksikan anak yang lahir dan susah-payah disekolahkan menjadi korban pertaruangan konyol. Kejadian paling anyar di sekitar Blok M, Jaksel.  Dua siswa SMA sekarat dibacok sesamanya.

Tawuran pada hari yang sama juga berlangsung di Jl. Salemba Raya, Senen, Jakpus. Dari tempat ini sembilan pelajar SMK berikut sanjata tajam diamankan polisi.

Mungkinkah semua itu ekses dari pola pendidikan yang melenceng dari hakekatnya? Atau bisa jadi sebagai wujud dari puncak gunung es kekecewaan generasi penerus menghadapi  konflik elit berebut kekuasaan.

Bapak Pendidikan Raden Mas Soewardi Soerjaningrat  atau Ki Hadjar Dewantara memaknai  pendidikan sebagai upaya memajukan budi-pekerti, pikiran dan jasmani agar dapat memajukan kesempurnaan hidup serta kehidupan yang selaras  dengan alam dan masyarakatnya.

Fakta empiris mengemuka, lembaga pendidikan yang menyeimbangkan kecerdasan akal dengan keyakinan atau relegi, secara umum siswanya jauh dari brutal.   Celakanya, banyak penyelenggara terperangkap pragmatisme. Contoh sederhana, siswa telat bayar iuran dilarang masuk ruang kelas atau tak boleh ikut ujian.

Pada akhirnya, gedung sekolah tak beda dengan mal atau pusat pertokoan. Siswa dijadikan obyek mendapatkan uang sebanyak-banyaknya. Inilah yang menurut hemat kita menjadi penyulut dominan anarkisme pelajar sehingga harus segera distop.

Langkah penanganan jangka pendek, kita tunggu dari hasil pertemuan  Kaploda Untung bersama Menteri Nuh. Minimal diperoleh solusi jitu melalui pendekatan keamanan yang tetap meberi ruang bagi pelaku tawuran guna memperbaiki masa depannya. ***