Wednesday, 24 April 2019

Dugem Lepas Batas

Jumat, 27 April 2012 — 8:36 WIB

GADIS maut Afriyani Susanti, kemarin, mulai diadili untuk mempertangung-jawabkan perbuatannya berakibat 9 orang tewas dan melukai 3 orang lainnya.  Perempuan 29 tahun itu pada Minggu siang, 22 Januari 2012, mengemudikan mobil Xenia menabrak korban dekat Halte Tugu Tani, Jakpus. Ia mabok  usai dugem.

Lantaran itulah publik menjulukinya gadis maut. Di sini yang perlu kita garis bawahi adalah akibat dugem kelewat batas,  korban berjatuhan. Ada mobil melaju kencang tiba-tiba nyempulung ke kolam Bundaran Hotel Indonesia, sedan BMW menabrak warung di Jl Duren Tiga Raya, Jaksel dan lainnya.

Rasa ingin tahu mendorong kita bertanya, sampaikan kapan kasus Afriyani dianggap kecelakaan biasa? Relakah tempat hiburan di kota kita menjadi surga bagi pemabok atau pecandu narkoba?

Sebagai kota terbuka tingkat dunia, Jakarta lumrah memiliki berbagai jenis tempat hiburan di antaranya  diskotik, kafe, bar, klab malam, karaoke, sauna, musik hidup dan griya pijat. Kerasnya dinamika kehidupan sehari-hari, mendorong banyak orang butuh sarana untuk mengendorkan ketegangan mental. Tempat hiburan menjadi pilihannya.

Data Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta menyebutkan di kota ini ada 75 diskotik,  221 karaoke, 183 musik hidup, 659 bar dan kafe  serta 253 griya pijak. Meski pemiliknya mengantongi izin, bukan jaminan taat aturan. Bahkan banyak yang menyulap industri pariwisatanya menjadi sarang pelacuran hingga pasar narkoba. Walau bolak-balik dirazia, mereka tak juga kapok. Ironis!

Secara defacto penyimpangan mereka telah menjadi sumber malapetaka. Masyarakat umum sedang asyik liburan sambil jalan kaki di sekitar  Halte Tugu Tani, bergelimpangan menemui ajal digilas mobil xenia dikemudian Afriyani.
Tragedi itu, menurut hemat kita, memiliki koherensi atau hubungan saling terkait dengan kasus suap-menyuap  seputar pelanggaran aturan oleh penyelenggara tempat hiburan. Banyaknya pelacur dan peredaran ekstasi, shabu-shabu serta barang haram sejenis terlalu sulit untuk diyakini luput dari sorot mata aparat pengawas.

Menimimalisir dampak buruk dugem dan menjadikan tempat hiburan malam di kota kita sehat, harus dimulai dari ketegasan pengawas menjalankan tugas. Hentikanlah kebiasaan lengah.

Amplop isi uag suap dari begundal berkedok pengusana tempat hiburan adalah awal dari bencana. Afriyani, pelaku malapetaka Halte Tunggu Tani, tapi juga korban bisnis dugem lepas batas.***