Wednesday, 21 November 2018

Trotoar Bermartabat

Senin, 30 April 2012 — 9:27 WIB

TROTOAR di pelosok kota seluruh Indonesia bermasalah. Pedestrian atau sarana perjalan kaki diserobot berbagai kepentingan mulai dari pengemis, lapak pedagang, etalase toko, pangkalan ojek, bengkel kendaraan, parkir mobil, hingga terminal bayangan.

Di Ibukota Jakarta, baru sebagian kecil atau sekitar 60 Km dari sekitar 300 Km trotoar yang dapat dinikmati pejalan kaki. Fasilitas tersebut masih timpang dibandingkan dengan jalan raya  sepanjang 6.000 Km.

Saat menghadiri Festival Pedestrian di Jl. Sabang, Jakarta Pusat, kemarin, Gubernur Fauzi Bowo mengajak warga sadar menjaganya.  Pemprov DKI dalam waktu dekat menata trotoar di Jl. Cikini Raya, Jl. Ridwan Rais dan lainnnya termasuk Jl. Gajah Mada – Hayam Wuruk.

Anggaran Rp10 miliar telah disiapkan khusus untuk membiayai penataan di Gajah Mada – Hayam Wuruk. Trotoar di jalan ini membentang dari Persimpangan Harmoni hingga kawasan Glodok atau sebaliknya sudah bertahun-tahun diserobot berbagai kepentingan.

Bila dicermati kesemrawutan pada umumnya tidak lepas dari praktek pungutan liar yang memiliki matarantai dengan ‘penguasa’ lokasi. Pemungli di lapangan rutin menyetor kepada bosnya yang ongkang-ongkang kaki di belakang meja.
Oleh karena itu, menormalisasi  tidak cukup hanya mengharapkan keasadaran warga. Dijadikannya trotoar sebagai sumber pendapatan sang jagoan, maka tindakan aparat berwenanglah yang paling layak dikedepankan.

Partisipasi publik dapat diandalkan sebatas menjaga kebersihan-keindahan dengan cara tidak membuang sampah sembarangan serta memanfaatkan sarana yang ada harus sesuai dengan peruntukan. Tindakan terhadap pelanggar berada pada kewenangan aparat.

Masih minimnya trotoar, apalagi yang layak  dilewati menjadi keprihatinan bersama. Alasan kita, tanpa kecuali tua-muda, miskin-kaya, fisik normal atau cacat, butuh keselamatan saat berjalan kaki. Tanpa trotoar sama dengan tiada jaminan keselamatan bagi pejalan kaki.

Agenda pemprov pempriotitaskan menormalisasi pedestrian adalah pilihan manusiawi yang belum telat guna menjadikan kota kita makin  bermartabat.  Langkah mendesak, segeralah melarang segala bentuk aktivitas kontra kepentingan pejalan kaki. ***