Friday, 23 August 2019

Diplomat Pejuang

Senin, 14 Mei 2012 — 9:52 WIB

KARENA Indonesia tetap mengacu kepada konsep politik luar negeri yang ”bebas aktif” dimana tidak pro Barat dan tidak pro Timur dan hanya pro kepentingan Nasional? Maka diperlukan ”diplomasi perjuangan” dan ”perjuangan diplomasi”, sebab jika kita pro Barat atau pro Timur akan terjadi tarik-menarik atau ulur-mengulur kepentingan. Dan Indonesia akan terjerumus kepada politik liberalisme, kapitalisme atau komunisme.

Oleh karena itu untuk melaksanakan politik Indonesia yang bebas aktif dan untuk melaksanakan diplomasi perjuangan dan perjuangan diplomasi, maka masalah pokoknya adalah diperlukan ”Diplomat Pejuang”.

Kita lantas ingat kepada sejarah perjuangan Indonesia yang dilaksanakan oleh pejuang diplomat yang waktu itu dilakukan oleh Sutan Syahrir yang memperjuangkan kepentingan nasional. Dari mulai Birma (kini Myanmar), India sampai PBB peranan Syahrir Cs. merupakan perjalanan diplomat pejuang yang hanya semata-mata memikirkan kepentingan Nasional. Demikian juga di zaman Adam Malik, Muchtar Kusuma Atmadja dan Ali Alatas merupakan penerus diplomasi pejuang dan pejuang diplomasi.

Sekarang zaman sudah berubah, diplomat-diplomat muda kita tumbuh tidak dilatar belakangi oleh semangat Pergerakan Perjuangan atau semangat Era Baru. Jika dahulu semangat perjuangan adalah memerangi penjajah, sistem liberalisme dan komunisme, sekarang justru berjuang untuk memerangi kebodohan dan kemiskinan dalam rangka menyejahterakan seluruh rakyat Indonesia.

Itu sebabnya diperlukan diplomat muda untuk meneruskan diplomasi perjuangan dan perjuangan diplomasi. Mengapa? Karena Indonesia tetap menjalankan politik yang bebas aktif berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 sehingga upaya-upaya untuk menegakkan kepentingan Nasional yakni kepentingan bangsa dan negara tetap berkembang, tetap mengacu kepada prinsip-prinsip membela kepentingan Nasional. Dengan diplomasi perjuangan dan perjuangan diplomasi bangsa Indonesia tidak akan dilecehkan di forum regional dan internasional. Tidak akan terjadi pelecehan terhadap TKI kita. Tidak akan terjadi penjajahan ekonomi, tidak terjadi Bank-Bank Nasional dikuasai oleh asing dan lain-lainnya.

Kita hanya mengingatkan kepada Pemerintah dan DPR agar tidak menyerah, berupaya untuk memperjuangkan kepentingan Nasional dan tetap berdiri pada kemampuan diri sendiri untuk melaksanakan politik bebas aktif.

Anak-anak bangsa ikut sedih jika masih terjadi pelecehan terhadap kepentingan Nasional. Untuk itu tetaplah jika anak-anak muda berlanjut untuk membekali dirinya dengan moral dan karakter dirinya yang lebih baik. Amanat dari Undang-Undang Dasar 1945 harus dijunjung tinggi, karena merupakan amanat dari para pendiri bangsa dalam hal menjalankan politik bebas aktif. Semoga berhasil.