Tuesday, 20 August 2019

Syair Sarat Dengan Pesan Moral

Rabu, 16 Mei 2012 — 9:26 WIB
komu-sub

NAMA Ebiet G. Ade tiba-tiba menyeruak di industri musik Indonesia di tahun 1979. Lewat album perdana bertajuk Camelia, Ebiet yang mengusung warna balada berhasil menggeser musik pop saat itu.  Hal tersebut karena  lagu-lagu Ebiet yang sarat dengan pesan moral, begitu dekat dengan manusia, lantaran lirik-liriknya yang bertemakan alam dan duka derita kelompok tersisih.

Pada awal kariernya, dia ‘memotret’ suasana kehidupan Indonesia pada akhir tahun 1970-an hingga sekarang. Tema lagunya beragam, tidak hanya tentang cinta, tetap ada juga lagu-lagu bertemakan alam, sosial-politik, bencana, religius, keluarga dan lainnya. Sentuhan musiknya sempat mendorong pembaruan pada dunia musik pop Indonesia. Semua lagu ditulisnya sendiri. Dan, dia tidak pernah menyanyikan lagu yang diciptakan orang lain, kecuali lagu Mengarungi Keberkahan Tuhan yang ditulis bersama  Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Terlahir dengan nama Abid Ghoffar bin Aboe Dja’far di Wanadadi, Banjarnegara, pada    21 April 1954. Merupakan anak termuda dari 6 bersaudara pasangan Aboe Dja’far yang seorang PNS dan Saodah yang seorang pedagang kain.

Setelah lulus SD, Ebiet masuk PGAN (Pendidikan Guru Agama Negeri) Banjarnegara. Sayangnya dia tidak betah sehingga pindah ke Yogyakarta. Sekolah di SMP Muhammadiyah 3 dan melanjutkan ke SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta. Dia aktif di PII (Pelajar Islam Indonesia). Namun, dia tidak dapat melanjutkan kuliah ke Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada karena ketiadaan biaya.

Nama Ebiet didapatnya dari pengalamannya kursus bahasa Inggris semasa SMA. Gurunya orang asing, biasa memanggilnya Ebiet, mungkin karena sang guru mengucapkan A menjadi E. Akhirnya dia lebih sering dipanggil Ebiet oleh teman-temannya. Nama ayahnya digunakan sebagai nama belakang, disingkat AD, kemudian ditulis Ade, sesuai bunyi penyebutannya, Ebiet G. Ade.

MALIOBORO

Sering keluyuran tidak keruan, dulu Ebiet akrab dengan lingkungan seniman muda Yogyakarta pada tahun 1971. Tampaknya, lingkungan inilah yang membentuk persiapan Ebiet untuk mengorbit. Motivasi terbesar yang membangkitkan kreativitas penciptaan karya-karyanya adalah ketika bersahabat dengan Emha Ainun Nadjib, cerpenis Eko Tunas dan E.H. Kartanegara. Malioboro menjadi semacam rumah bagi Ebiet ketika kiprah kepenyairannya diolah, karena pada masa itu banyak seniman yang berkumpul di sana.

Lagu-lagunya menjadi trend baru dalam khasana musik pop Indonesia. Tak heran, Ebiet sempat merajai dunia musik pop Indonesia di kisaran tahun 1979-1983. Sekitar 7 tahun Ebiet mengerjakan rekaman di Jackson Record. Pada tahun 1986, perusahaan rekam yang melambungkan namanya itu tutup dan Ebiet terpaksa keluar. Dia sempat mendirikan perusahaan rekam sendiri EGA Records, yang memproduksi 3 album, Menjaring Matahari, Sketsa Rembulan Emas dan Seraut Wajah.

Dia menikah dengan Koespudji Rahayu Sugianto atau lebih dikenal  Yayuk Sugianto, kakak  Iis Sugianto, pada tanggal 4 Februari 1982. Mereka dikaruniai 4 anak, 3 laki-laki dan 1 perempuan, yaitu Abietyasakti “Abie” Ksatria Kinasih, Aderaprabu “Dera” Lantip Trengginas, Byatriasa “Yayas” Pakarti Linuwih dan Segara “Dega” Banyu Bening.

(anggara/rf)

Teks Gbr- Ebiet G. Ade.