Sabtu, 19 Mei 2012 10:41:00 WIB

Indonesia Harus Kembangkan Karya Anak-anak SMK

merakit-mobil

INDONESIA kaya potensi. Siswa-siswi sekolahnya multytalenta, kreatif, inovatif dan prospektif. Anehnya sampai saat ini kekayaan itu tidak tersalurkan maksimal sehingga bangsa ini tidak pernah punya kebanggaan.

Salah satunya adalah kemampuan siswa-siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di berbagai wilayah tanah air di bidang otomotif bahkan kedirgantaraan. Mereka sudah mampu membuktikan karyanya. Itu artinya tinggal selangkah lagi, tergantung pemerintahnya mau mereka berkembang atau berhenti sampai disitu saja.

Secara umum, kemampuan siswa-siswa SMK itu hampir merata. Mereka memiliki kemampuan di bidangnya masing-masing hingga menghasilkan karya yang nyata. Beberapa diantaranya seperti SMK Negeri 29 Jakarta yang mampu merakit Pesawat Jabiru J430.

Pesawat ini merupakan wujud aplikasi keterampilan siswa SMK jurusan penerbangan. Perakitan Jabiru J 430 dimulai pertengahan September 2011. Pesawat perintis Jabiru J430 hasil rakitan para siswa SMK Negeri 29 Jakarta diperkirakan bisa terbang hingga Bali dan Malaysia.

Bahan bakarnya pun tersedia dipasaran karena menggunakan Pertamax. Dengan bahan bakar itu Jabiru mampu terbang dengan berkecepatan kurang lebih 130 knot. Untuk menempuh jarak Jakarta-Surabaya diperkirakan memakan waktu tiga jam dengan bahan bakar sekitar 80 liter.

MOBIL TOKO
Ada lagi Mobil Toko (Moko) yang merupakan hasil karya siswa SMK 5 Makassar. Mesinnya memang masih menggunakan mesin impor dari Cina. Tapi bahan baku lainnya 80 persen menggunakan produk lokal.

Memang perakitan mobil ini masih melibatkan tehnisi local dan kerja sama dengan PT Industri Kereta Api Nasional. Tapi secara umum, siswa SMK 5 Makassar terlibat secara intens dalam perakitan.

SMK Negeri 6 Malang, Jawa Timur juga sudah merakit mobil yang diberi nama Rosa. Mereka merakit sendiri secara manual karyanya selama sebulan dengan biaya Rp125 juta. Mobil ini tergolong irit bahan bakar.Untuk seliter bahan bakar bisa menempuh 15 km.

Ada dua jenis mobil yang dirakit, tipe Sprot Utility Vahicle dan Multi Purpose Vahicle (MPV).

“Untuk jenis MPV masih dalam tahap perakitan, dan rencana akan diselesaikan pula tahun ini, sehingga murid SMK di Malang tidak kalah dengan SMK dari daerah lain,” kata Gunawan Dwiyono, wakil kepala sekolah bidang kurikulum dalam satu pameran.

Masih di kota Malang, ada SMKN 1 Singosari dibuat dalam dua tipe yaitu jenis pickup seperti yang dipamerkan dan jenis SUV (Sport Utility Vehicle) diberi nama Digdaya. Mobil jenis SUV berkapasitas mesin 1500 cc, berteknologi injection.

KIAT ESEMKA
Di antara SMK yang jagoan merakit mobil SMK 2 Surakarta dan SMK Warga Surakarta sangat fenomenal setelah karyanya Mobil Kiat Esemka diluncurkan dan dinyatakan menjadi mobil dinas walikota Solo dan wakilnya. Dua SMK ini bekerjasama dengan bengkel Sukiyat Motor dalam menyelesaikan mobilnya. Bahkan Sukiyat merangkul 15 SMK di Jawa Tengah, Jawa Timur dan Jakarta untuk merakit-mobil-mobil serupa. Meski mobil belum lolos uji emisi, kabar terakhir pemesan mobil ini sudah mencapai angka 2000 unit.

Siswa-siswa SMKN 2 Surakarta juga merakit sepeda listrik. Sepeda motor ini ramah lingkungan dan  hemat energy. Sepeda listriik ini memang tidak menggunakan bahan bakar. Untuk menggerakan mesinnya digunakan listrik. Harganya juga relative murah antara Rp3,5 hingga Rp4 juta.

Ada lagi jenis mobil anak SMKN 12 Kota Bandung, Jawa Barat. Mereka membuat mobil yang diberi nama Buggy Car ABCD (Anak Bandung Cinta Damai). Mesinnya empat silinder ini dikembangkan bersama SMKN 8 Bandung. Mobil ini dikembangkan untuk keperluan off road.

“Kalau untuk di jalan raya, izinnya sangat susah, makanya kami modifikasi hanya untuk keperluan off road dahulu,” kata Kepala SMKN 8 Bandung, Dedi Indrayana. “Pesanan dari Medan sebanyak lima buah, tapi baru kami penuhi satu unit karena harus ada indent.” ujar Dedi. Harga on the road (OTR) buggy car, antara Rp 50 hingga 75 juta.

MOTOR LISTRIK

Sepeda motor mini bertenaga listrik ini diproduksi olleh para siswa SMK 2 Surakarta, Jawa Tengah dibantu guru pembimbingnya. Selain tidak memerlukan bahan bakar, sepeda motor mini ini tergolong ramah lingkungan karena tidak menghasilkan emisi. Jika jadi diproduksi massal, sepeda ini akan dihargai sebesar Rp3,5 juta hingga Rp 4 juta untuk per unitnya.

Jadi, semua tergantung pemerintah, mau pilih mengembangkan yang mana untuk kemajuan industry otomotif di tanah air. Kalau pilihannya mengembangkan industry otomotif serius sudah ada mobil anak bangsa dengan merek Gea, Tawon, Kancil dan Inobus yang telah mengantongi izin produksi. Tapi ada juga pilihan lain dengan membina anak-anak SMK secara serius untuk mengembangkan hasil karyanya. Kecuali kalai pilihannya ingin seperti sekarang menjadi jajahan produsen otomotif dunia.

(untung/o)

Foto : kominfo.go.id

Baca Juga

© "Poskota", "Poskota Online" adalah merk dagang milik PT. Media Antarkota Jaya. Poskota diterbitkan oleh PT.Media Antarkota Jaya sejak 15 April 1970 di Jakarta. Izin Usaha: SIUPP No. 0088/SK/Menpen/SIUPP A/7 1986 13 Maret 1986.