Monday, 26 August 2019

Mang Ade, Penarik Becak

`Alhamdulillah, Kami Diperhatikan`

Rabu, 23 Mei 2012 — 14:02 WIB
becak

SOSOK lelaki bertubuh kurus terlihat sedang duduk melamun diatas becak dengan kucuran keringat yang membasahi pelipisnya. Lelaki itu biasa dipanggil Mang Ade, 45, seorang penarik becak yang sehari-hari mangkal di Jalan Kemuning, Kel Nagri Kaler, tepat di tengah Kota Purwakarta. Mang Ade baru saja mengantarkan penumpangnya ke daerah  Gang Beringin.

Sambil menyeka keringatnya, Mang Ade bercerita tentang pahit getirnya menjadi seorang pekerja informal. “Namanya juga tukang becak, tidak pernah dapat gaji, apalagi tunjangan,” ucap dia tersenyum.
Pendapatan setiap hari mencapai Rp20-40 ribu, diakui Mang Ade yang menanggung 5 orang anak, cukup berat untuk mencukupi kehidupan sehari-hari. Agar membuat dapur tetap ngebul setiap hari, Mang Ade terpaksa menggowes becaknya dari pukul 08.00 wib pagi sampai pukul 20.00 wib malam.

Dengan mengandalkan dirinya sebagai penarik becak dan istrinya sebagai buruh nyuci keliling, Mang Ade cukup ketar ketir takkala dirinya atau keluarganya jatuh sakit. “Sudah tidak ada yang mencari uang, ditambah lagi biaya berobat saat ini sangat mahal apalagi kalau sampai dirawat” katanya menerawang.

Tapi, Mang Ade mengaku saat ini bisa bernafas lega. Beberapa waktu lalu, Bupati Purwakarta,  Dedi Mulyadi meluncurkan program jaminan sosial untuk pekerja informal.  Mang Ade bersama 75.000 KK lainnya sebagai pekerja Informal, mulai dari pedagang, petani, sopir angkot hingga buruh kasar diasuransikan oleh Pemerintah Kabupaten Purwakarta. “Syukur alhamdulillah, kami diperhatikan,” ujar Mang Ade.

SEBANYAK 87.000
Menyoal hal itu, Mang Ade mengaku sudah mendengar dan mengetahui kabar tentang asuransi jiwa yang digulirkan bupati ini dari tetangganya yang menjabat sebagai ketua RW.  “Keluarga sudah didata pak RW dan didaftarkan dikepesertaan asuransi pekerja informal. Tapi hingga kini kartu asuransi itu belum diterimanya. Mudah mudahan program ini dapat membantu masyarakat miskin seperti saya ini,” pungkasnya.

Kepala Cabang Jamsostek Purwakarta Didi Suardi menjelaskan, belum diserahkannya kartu kepesertaan jamsostek kepada pekerja informal karena premi belum dibayarkan oleh Pemkab Purwakarta. Namun, Didi menjamin, pekerja informal yang sudah didaftarkan dikepesertaan ini yang berjumlah 87.000 bisa menikmati layanan kesehatan ke rumah sakit. “Saya jamin, mereka sudah dapat dilayani ketika berobat ke rumah sakit,” tandasnya.

Saat ini, diakuinya, tengah dilakukan perekaman data dari pihak kepala kelurahan dan desa untuk disodorkan ke Jamsostek.” Kita menunggu SK dari masing masing desa dan kelurahan menyoal pendaftaran kesepertaan warganya. Diprediksi bulan Juli selesai dan kartu Jamsostek diserahkan,” ungkapnya.

(dadan/g)

Teks Gbr- Mang Ade, penarik becak yang menyambut baik program Jamsostek buat komunitas pekerja informal.(dadan)