Friday, 23 August 2019

Bupati Purwakarta Buat Terobosan

Ribuan Tukang Becak dan Pemijat Dapat Asuransi

Rabu, 23 Mei 2012 — 13:53 WIB
becak

RIBUAN komunitas tukang becak dan tukang pijat beserta pekerja informal lainnya kini boleh bernafas lega. Mereka layak berterima kasih kepada Bupati Purwakarta yang telah meluncurkan program asuransi bagi warga miskin tersebut.

Sukses melaksanakan program Asuransi Bagi pekerja Sosial di tahun 2010, Pemerintah Kabupaten Purwakarta kini menggulirkan program pemberian asuransi bagi ribuan komunitas warga  pekerja sektor informal itu.

Pemberian asuransi bagi pekerja Informal di Purwakarta melibatkan PT Jamsostek ( Persero ). Direktur Utama PT Jamsostek Hotbonar Sinaga hadir langsung ke lokasi acara launching di Desa Cileunca Kecamatan Bojong, Purwakarta,  pada hari senin ( 16/1) lalu yang dikemas dalam bentuk kegiatan “ Gempungan di buruan Urang Lembur” yang merupakan Program Pemkab Purwakarta dalam rangka mendekatkan dan meningkatkan pelayanan Pemerintah Kepada masyarakat.

Selain dihadiri oleh Direktur utama PT Jamsostek ( Persero) dan jajajaranya juga dihadiri pejabat esselon II, III dan IV di lingkungan Pemerintah kabupaten Purwakarta.

Jumlah pekerja informal yang diasuransikan pada tahun 2012 mencapai 75.470 kepala keluarga ( KK). Seluruhnya merupakan warga Purwakarta yang berkerja di sektor informal, seperti lomunitas buruh tani, tukang becak, sopir angkot, tukang pijat, buruh kasar, pembantu rumah tangga dan yang lainnya. Program tersebut dilaksanakan sebagai sebagai sebuah terobosan baru Pemkab Purwakarta dalam Upaya memaksimalkan fungsi Pelayanannya kepada Masyarakat.
“Ini, sebuah terobosan baru dalam upaya memberikan perlindungan dan pemenuhan hak masyarakat,” ujar Dedi Mulyadi, Bupati Purwakarta.

Bupati Dedi menjelaskan, tahun 2010 lalu pemkab Purwakarta telah lebih dulu memberikan asuransi kepada sekitar 12.000 pekerja sosial di daerahnya. Para pekerja sosial itu meliputi kepala desa, sekretaris desa, perangkat desa lainnya seperti ketua RT dan RW, Bamusdes, Karang Taruna, Paraji ( dukun beranak),petugas pos KB, Kader posyandu, amil, guru ngaji, dan imam masjid.
Dengan penyertaan itu, para pekerja sosial di kabupaten Purwakarta dapat mengklaim pengeluaran untuk rawat inap dan pengobatan ke PT Jamsostek. Dan apabila meninggal dunia, mereka juga mendapat santunan kematinan hingga Rp 16,8 juta per peserta.

DIGULIRKAN RP1,1 TRILIUN

Dedi mengakui anggaran yang dipergunakan untuk memberikan asuransi bagi kurang lebih 75.000 pekerja informal di Kabupaten Purwakarta ( Beserta istri/suami dan tiga anaknya ) dan 14.000 ( beserta istri/suami dan tiga anaknya) untuk pekerja sosial menyedot 5 % dari APBD Purwakarta tahun 2012 ( saat ini APBD Purwakarta sebesar Rp 1,1 Triliun.

Dengan demikian, tegas Dedi , program lainnya seperti perbaikan infrastruktur, bidang pendidikan, dan kesehatan tidak terabaikan. Justru, seluruh kegiatan unggulan akan berjalan beriringan dengan program asuransi ini.
Untuk melaksanakan berbagai program yang dapat dirasakan sekali manfaatnya oleh masyarakat, dirinya melakukan pengetatan belanja seperti biaya perjalanan dinas, ATK dll.

Dengan adanya penambahan kepesertaan asuransi bagi pekerja Informal ini, Bupati Dedi Mulyadi mengatakan bahwa seluruh warga Purwakarta bisa terdaftar sebagai pemegang kartu asuransi ini. Itupun, warga yang memenuhi persyaratan asuransi sesuai dengan Undang-Undang.

“Kami ingin, program asuransi ini lebih komprehensif dengan sasaran seluruh warga Purwakarta,” ujar dedi.
Disebutkan Dedi, latar belakang digulirkannya program ini, berangkat dari keprihatinan melihat warga yang kerap menghadapi masalah kesehatan. Setiap sakit, mereka kesulitan biaya berobat.

Begitu pula saat ada anggota keluarga yang meninggal dunia, mereka harus mencari pinjaman untuk biaya pemulasaran jenazah. “Pemerintah harus membantu warganya yang kesusahan. Termasuk urusannya dengan biaya yang terkait dengan kematian,” tegasnya.

Euis, 45, warga Desa Nangewer, Kecamatan Darangdan, yang merupakan ahli waris ketua RT Sobari mengaku sangat terbantu dengan adanya asuransi ini. Asuransi yang diperolehnya sebesar Rp 12 Juta. Terdiri dari Rp 10 juta untuk santunan kematian, Rp 2 juta untuk biaya pemakaman. “Selain itu, kami juga mendapatkan santunan keluarga dengan besaran Rp 200 ribu per bulan yang dibayarkan selama 2 tahun,” ujarnya.

Menurut Euis, sebelumnya tidak pernah ada santunan. Jangankan puluhan juta, ratusan ribu juga tidak pernah ada. Akan tetapi, sejak setahun terakhir, suaminya yang telah mengabdi menjadi ketua RT selama puluhan tahun, mendapatkan apresiasi dari pemerintah. Hal ini tentunya sangat membantu keluarga yang ditinggalkan.

(dadan sukmana/g)