Lagi, Praja IPDN Tewas: Mimpi Jadi Pejabat Pulang Jadi Mayat

Sabtu, 26 Mei 2012
rektor-ipdn

BANDUNG (Pos Kota) – Meninggalnya wasana praja IPDN Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Yudi Wardana Siregar, asal kontingen DKI Jumat, kembali membangunkan rasa takut lulusan SMA yang akan mendaftar ke sekolah calon praja. Bagimana tidak,dengan munculnya berita praja meninggal semakin menciutkan nyali orang tua menyekolahkan anaknya ke kampis itu.

“ Kami ingin sekali anak kuliah di IPDN tapi khawatir ambisi anak supaya jadi pejabat malah pulang jadi mayat,“ kata Rohim,50, orang tua yang memiliki anak yang baru lulus SMA, Sabtu(26/5).

Kasus tewasnya praja IPDN dari dulu sampai sekarang masih berlanjut. Konon, kematian yang dialami praja naas itu akibat adanya penyiksaan senior terhadap juniprnya.

Kasus penganiayaan pun muncul sehingga kampus IPDN yang selama ini tertutup dan sulit disentuh masayarakat biasa akhinrya berhasil ditelnajangi setelah dibongkarnya kasus aksi balas dendam yang kerap meminta korban. Masih ingatkah nama Inu Kencana? Dialah sosok dosen yang gencar membuka kejanggalan kejanggalan yang terjadi di IPDN.

Semenjak situasi kampus ini direformasi IPDN mulai membuka diri. Kampus yang semula angker kini mulai menunjulkan diri sebagai lembaga pendidikan yang ramah dan penuh senyum. Keramahan yang kini dibangun di IPDN belum bisa sepenuhnya menghapus citra IPDN dari julukan kampus kekerasan.

Jika ada praja meninggal akibat sakit masyarakat sudah menuding kematian itu akibat penganiayaan seniornya.  Bahkan opini itu kini masih terbentuk di masyarakat sehingga mereka pun masih pikir panjang  menyekolahkan anaknya ke kanpus calon praja. Antara pejabat dan mayat masih terus menghantui hati masyarakat. Angkerkah IPDN?

Rektor IPDN. Prof.Dr. Nyoman Sumaryadi, saat dihubungi pos kota menegaskan, luiusan SMA dan MA yang ingin mendaftar ke IPDN tinggal daftar dan tak perlu banyak pertimbangan. Jika calon itu sudah memenuhi peesyaratan,“ segera daftarkan. Jangan takut kuliah di IPDN. Kami jamin sudah tak ada kekerasan di kampus calon praja,“ tandasnya.

Ungkapan Rektor yang mewnggebu gebu itu memberikan isyarat jika aksi kekerasan di kampus itu sudah dimusnahkan. “ Jika ada praja mencoba menyiksa juniornya, hukumannya dipecat. Dengan tindakan tegas ini kondisi di kampus IPDN steril dari kekerasan,“ tambahnya.

Rekor berharap kepada siapapun yang berminat kuliah di IPDN daftarlah selama persyaratan yang sudah ditentukan dapat terpenuhi.

“Jangan takut daftar ke IPDN. Kami jamin kampus ini steril dari unsur penganiayaan,“ tambahnya lagi.

Penegasan dari Rektor mengenai jaminan hilangnya kekerasan di kanpus itu tentunya bisa dijadikan garansi buat orang tua yang berminat menyekolahkan anaknya ke IPDN. Bila hati nurani anak berkeinginan sekolah disana, daftarkan. Kita harus tetap berkeyakinan kalau jodoh, maut, rezeki, dan musibah sudah ada ketentuanya, hanya jalannya saja  yang berbeda beda.

(Dono darsono)

Tentang Kami

Poskota

Poskota, Poskotanews, Poskota Online adalah merk dagang milik PT. Media Antarkota Jaya. Poskota diterbitkan oleh PT. Media Antarkota Jaya sejak 15 April 1970 di Jakarta. Izin Usaha: SIUPP No. 0088/SK/Menpen/SIUPP A/7 1986 13 Maret 1986.