Sunday, 15 September 2019

Dua Terpindana Mati Kasus Narkoba Segera Dieksekusi

Rabu, 30 Mei 2012 — 23:25 WIB
ilusdua

TANGERANG (Pos Kota)- Dari 16 terpidana mati kasus narkoba yang ditahan di LP Nusakambangan, Cilacap, dipastikan dua orang segera dieksekusi oleh Kejaksaan Negeri Tangerang.

“Kami merencanakan eksekusi menjelang Hari Adiyaksa 22 Juli mendatang,” jelas Kasi Pidum Kejari Tangerang Andi DJ Konggoasa,SH,MH, Rabu (30/5).

Dua terpidana mati itu WN India Moh Hafes dan Namoara Denis, keduanya tidak ada upaya hukum lagi alias sudah Inkrag.

Menurut Andi, tujuh jaksa dari Kejari Tangerang dibantu Kejari Cilacap yang dipimpinnya selama dua hari mendata terpidana mati yang ditahan di LP Batu dan LP Pasir Putih Nusakambangan. ” Hasil pendataan,dari 16 terpidana mati dua orang sudah gak ada upaya hukum lagi, dan sisanya masih ada upaya PK (peninjauan kembali) dan grasi,”tegasnya.

Dijelaskan Andi, jumlah terpiadana mati kasus narkoba semula tercatat total sekitar 32 orang, namun kini sudah berkurang karena ada grasinya dikabulkan presiden dan ada yang meninggal dunia di LP karena sakit. Dua terpidana grasinya diterima presiden yakni Merika Franola dan Indra Bahadur Tamang. Keduanya hukumannya dirubah dari pidana mati menjadi seumur hidup.

GRASI SBY
Menteri Luar Negeri (Menlu) Marty Natalegawa membantah tudingan bahwa grasi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk Schapelle Leigh Corby karena ada tekanan dari Australia. “Saya jawab tegas dan lugas tidak ada deal seperti itu,” ujarnya menanggapi pernyataan anggota Komisi I DPR Tantowi Yahya.

Tantowi mempertanyakan sikap pemerintah RI yang tidak memperjuangkan nasib anak-anak Indonesia yang ditahan di Australia. Perlakuan PresidenSBY terhadap Corby dinilainya tidak seimbang dengan perlakuan pemerintah Australia terhadap warga Indonesia.

Ketua Mahkamah Agung (MA), Hatta Ali, menyebutkan pemberian grasi merupakan hak prerogatif Presiden. Menurut Hatta, posisi lembaganya dalam pemberian grasi adalah memberikan pertimbangan hukum. “Persoalan, pertimbangan MA diterima atau tidak, tergantung kepada Presiden. Kita hanya memberikan pendapat,” katanya usai melantik Ketua Muda Pengawasan MA Timur Manurung, menggantikan Hatta Ali, di gedung MA.

Pemberian grasi kepada ratu mariyuana asal Australia, belakangan membuat riuh jagat politik, mulai rumah dewan di Senayan, praktisi hingga akademisi dan LSM. Mereka menyesalkan sebab pemberian itu kontra-produktif dengan pemberantasan narkoba.

Corby diberi grasi, berupa pemotongan hukuman selama lima tahun, sehingga dia hanya menjalani 15 tahun penjara. Dia juga dikenakan denda Rp100 juta. September 2012, dia bisa mengajukan pembebasan bersyarat. Corby ditangkap di Bandara Udara Ngurah Rai, Bali, pada 8 Oktober 2004. Pengadilan Negeri Denpasar memvonis 15 tahun penjara, lalu diperkuat Pengadilan Tinggi Bali. Hukuman diperberat menjadi 20 tahun oleh Mahkamah Agung.(maryoto/b)

  • Irma Nurai

    bukti kalo kita bangsa tempe!! yg mudah ditekan oleh bangsa asing!!