Friday, 23 June 2017

Mobil Korban Perampokan Ditemukan

Manajer Perusahaan Dapat SMS Gelap, Ngaku Polisi Minta Dana Operasional Rp10 Juta

Jumat, 1 Juni 2012 — 14:55 WIB
ilustrasi-sms

JAKARTA (Pos Kota) – Mobil korban perampokan di Pecenongan, Gambir, Jakarta Pusat yang terjadi pada Rabu (30/5/2012) lalu ditemukan oleh Polres Tangerang di pinggir Jalan Cipondoh Raya, Tangerang, Banten, pada Kamis (31/5/2012) petang.

Toyota Altis B 99 AD milik PT Neonlite ditemukan oleh anggota Polres Tangerang yang curiga oleh mobil tersebut karena plat nomernya sama persis oleh mobil korban  perampokan di Pecenongan, Jakarta Pusat.

Temuan ini pun langsung dilaporkan ke Polres Jakarta Pusat dan ternyata benar mobil tersebut adalah mobil PT Neonlite yang menjadi korban perampokan.

Akhirnya mobil tersebut dibawa ke Polres Jakarta Pusat dan sopir pribadi yang bernama Wahyudin dan para perampok tersebut masih dalam pencarian.

Sementara itu,  Manajer PT Noeonlie, Adi Iskandar, mengaku mendapat SMS/pesan pendek gelap dari nomor yang tak dikenal. Intinya minta uang operasional sebesar Rp10 juta, karena mobil korban perampokan sudah ditemukan di kawasan Tangerang.  “SMS pertama ngaku anggota polisi dan SMS kedua ngaku pejabat polres,” kata Adi, ketika dikonfirmasi.

Kapolres Jakarta Pusat, Kombes Pol AR Yoyol, membantah jika SMS gelap itu dari anak buahnya. Karena itu, pihaknya akan segera mengusut kasus ini.

UANG GAJI

Puluhan karyawan PT Neonlite, gagal gajian, Rabu (30/5). Uang Rp149 juta diambil dari BCA Cabang Pecenongan, Jakarta Pusat dirampok bandit berpisau. Pegawai perusahaan yang mengambil uang gaji itu diculik kemudian dibuang di kawasan Bintaro. Sopir menghilang bersama mobil kantor.

Perampokan terjadi sekitar Pk. 10:00. Saat itu, pegawai bagian keuangan perusahaan jasa periklanan, Ivan, 49, keluar dari BCA Pecenongan. Ia ditemani Mahyudi, 32, sopir kantor. Mereka bergerak menuju tempat work shop perusahaan di Jalan Kemandoran, Jakarta Barat. Kedua karyawan itu menggunakan mobil Toyota Altis hitam B 99 AD.

Mendadak, seorang pria berambut pendek lurus menghadang laju mobil. Kendaran korban berhenti. Bandit dengan mudah masuk ke mobil. Pasalnya, pintu mobil tidak terkunci. Pelaku duduk di samping Ivan. “Dia bilang pilih harta atau nyawa . Pisau ditempelkan ke leher saya,” ungkap Ivan usai melapor di Polsek Gambir. Di bawah ancaman, bapak satu anak itu tak bisa berbuat banyak ketika ransel berisi uang perusahaan Rp149 juta diambil paksa.

Ivan dipaksa telungkup di bawah jok. Mobil terus berjalan. Di jalan sepi, Ivan didorong keluar lalu ditinggalkan. Belakangan diketahui daerah tempat Ivan dibuang kawasan Bintaro Regency. “Lokasinya sepi dan banyak alang-alang,” ungkapnya. Ia berjalan mencari bantuan hingga bertemu seorang warga yang membantunya mengantar ke kantor polisi.

“Saya nggak tahu kemana sopir kantor itu. Waktu saya dirampok, dia tenang-tenang saja dan tak diancam sama sekali,” ungkap Ivan, yang menderita luka goresan pisau di leher.

GAJIAN DITUNDA

Direktur Marketing PT Neonlite, Adi Iskandar, mengatakan Mahyudi baru sebulan bekerja sebagai sopir. “Ia mestinya menerima ganjian pertamanya. Uang Rp149 juta yang dirampok untuk gajian sekitar 100 lebih pegawai harian, termasuk dia,” ungkapnya. “Gaji pegawai seharusnya dibagikan sore. Kami terpaksa menunda membayar gaji sampai besok (hari ini-Kamis, 31/5).”

Menurutnya, Ivan mencairkan uang sekitar Rp450 juta. Sebelum dirampok, uang sekitar Rp300 juta diserahkan ke kantor pusat di Jalan Suryopranoto. Selanjutnya, ia menuju workshop untuk menyerahkan uang gaji pegawai harian.

Mengenai sopir yang diduga ikut berkomplot, Adi mengaku tak terlalu mengenal sopir baru itu. “Dia masuk kerja atas rekomendasi karyawan yang sudah 5 tahun bekerja dengan baik, jadi kami terima tanpa tes. Bahkan, ia baru menyerahkan fotokopi KTP. Surat lamaran dan lain-lainnya belum diserahkan,” ungkapnya.

Diakui, saat menerima Mahyudi bekerja ia merasa ada yang tak baik yang dilihat dari gaya dan sorot matanya. Tapi, ganjalan itu ditepisnya karena beranggapan tak bisa menilai dari fisik seseorang. “Sekarang, dia nggak ada kabar. Bukti mengarah dia berkomplot. Istrinya juga nggak ada di rumah kontrakan mereka,” kata Adi Iskandar.

Sementara itu, Wahyu Riyadi, pegawai yang merekomendasikan Mahyudi, mengatakan beberapa hari sebelum perampokan, Mahyudi mengaku ingin pulang ke Balaraja, Tangerang, untuk melihat anaknya yang sakit.

Kapolres Jakarta Pusat, Kombes Pol. AR Yoyol, mengaku belum mengetahui kasus perampokan yang terjadi di wilayah hukumnya tersebut. Sedangkan petugas Patroli Jalan Raya Polda Metro Jaya mengejar mobil yang dirampas, yang diindikasikan masuk jalan tol.

(silaen/deny/sir)

  • fissabil

    gw sih lebih percaya sm isi sms nya itu…..yg kaya begini sih udah lagu lama…klo urusan sm polisi mah gak bakal jauh-jauh dari urusan duit…katro