Thursday, 15 November 2018

Tidak Korupsi Tapi Korupsi

Senin, 4 Juni 2012 — 9:40 WIB

INDONESIA telah dilanda oleh krisis moral dan krisis akhlak. Krisis-krisis tersebut telah merambah tidak saja ke lapisan atas tapi juga ke lapisan menengah dan sebagian lapisan bawah. Pangkal mulanya adalah adanya “ketidak jujuran” dari oknum pimpinan tingkat atas baik di Eksekutif, Yudikatif maupun Legislatif.

Lebih-lebih sejak Reformasi. Ketidak jujuran dibangun dengan cara sistemik melalui korupsi, melalui perampokan terhadap uang Negara dan uang rakyat. Semua itu adalah untuk kepentingan kekuasaan dan jabatan semata.

Ada cerita menarik digelar ditengah masyarakat, yang semua orang tahu cerita ini diceritakan orang tua kepada kita sejak kita kecil, demikian ceritanya: Ada dua orang buta bernama Maman dan Mamat. Mereka belum pernah melihat gajah. Ketika diajak ke kebun binatang dua orang itu dibawa dekat gajah. Maman ketika memegang telinga gajah ditanya apa itu yang kamu pegang? Ini kipas jawabnya. Si Mamat begitu juga. Ketika diminta untuk memegang belalai gajah ditanya, apa ini? Ini semprotan air. Ketika diminta memegang kaki gajah, ditanya ini apa? Dijawab oleh Maman ini bambu besar, dan si Mamat bilang ini meriam. Ketika mereka diminta untuk meraba ekor gajah, si Maman dan si Mamat bilang, kalau ini “kemoceng”.

Maklumlah, karena mereka belum pernah melihat gajah, maka apa yang dikatakan sesuai dengan kejujuran hati nuraninya. Mereka memang jujur, tidak ada kepentingan apa-apa.

Dari kisah tersebut di atas merupakan cerita orang buta tapi jujur. Lain dengan jaman sekarang, yang dikemukakan oleh oknum-oknum Pemimpin kita, termasuk oknum-oknum pemimpin Parpol, oknum-oknum anggota DPR yang dalam gembar-gembornya mengatakan jujur, tapi kenyataannya tidak jujur. Karena memang dibalik perkataannya ada kepentingan macam-macam. Matanya tidak buta, tapi hatinya buta. Lebih-lebih sebagian dari mereka menyatakan tidak korupsi, tapi ternyata melaksanakan tindak korupsi.

Rakyat melihat tontonan sandiwara itu tertawa, bahkan rakyat bertanya bagaimana cara memberantas ketidakjujuran itu? Penulis menjawab; terserah kepada DPR dan Pemerintah. Rakyat sudah letih, lesu dan lemah melihat tontonan itu. He-he-he!!!