Saturday, 20 October 2018

Anom Suroto Yang Malang

Kamis, 7 Juni 2012 — 11:09 WIB
dia-7-juni

ANOM Suroto, 71, satu ini bukan dalang, bukan pula seniman wayang, tapi nasibnya sungguh malang. Anak minantu yang baru pulang dari Korea ngamuk tanpa sebab. Mertua yang telah memberi “kebahagian” buatnya tahu-tahu digetok martil hingga tewas. Untungnya, habis membunuh mertua, Kabul, 27, menyerahkan diri ke polisi.

Dalam pagelaran wayang kulit, kidalang Anom Suroto sering memberi wejangan bahwa manusia harus berbakti pada 4 hal. 1. Tuhan sang pencipta alam, 2. Orangtua yang melahirkan kita, 3. Guru yang menularkan ilmu, dan 4. Mertua, karena dialah yang telah berjasa memberi “jumbuhing kanikmatan”. Coba, jika tak ada anak daripada mertu, kaum lelaki kedinginan di malam hari mau ke mana?

Rupanya Kabul kurang menyadari hal yang satu ini. Dalam alam pikirannya yang agak kurang waras, mertua dianggapnya seperti monster saja. Ditambah bisikan suara-suara yang tak jelas, langsung saja Anom Suroto digetok martil beberapa kali. Ya wasalamlah.

Keluarga Kabul memang keluarga yang “berantakan”. Bagaimana tidak? Dia sendiri jadi TKI di Korea, eh… istrinya jadi TKW di Hongkong. Lalu kapan bisa ketemunya. Ini pula agaknya yang menjadikan Kabul menjadi sedikit stress. Bukankah penyanyi Waljinah pernah mengatakan: aja ngenyek wong wedok, ditinggal lunga setengah mati.

Sebelum menjadi TKI, Kabul di kampung halamannya Desa Pondok, Kecamatan Babadan, Ponorogo, pernah berguru “ngelmu tuwa” pada seseorang bernama Ulini di Kediri. Entah apa yang diajarkannya, sehingga pikiran Kabul kadang normal, kadang agak menyleng (setengah gila).

Saat dalam kondisi normal, dia berkeinginan pergi jadi TKI ke Korea untuk memperbaiki nasib. Istri dan mertuanya pun mengizinkan. Berangkatlah dia ke Negeri Gingseng. Baru setahun di sana, istrinya menyusul pula jadi TKW di Hongkong. Sebenarnya dia sudah melarang, tapi Kalimah, 24, nekad saja. Anak semata wayangnya yang masih balita diserahkan dalam asuhan kakek nenek.

Beberapa saat jadi TKI Korea, penyakit bawaan dari ilmu yang ditimba di Kediri suka muncul. Tapi hal ini agaknya tak mengganggu benar, terbukti masa kontrak 2 tahun bisa diselesaikan dengan baik. Maka beberapa minggu lalu, dia sudah kembali ke kampung asalnya, bisa ketemu anak dan mertua. Lha istrinya? Ya ini yang jadi masalah.

Dua tahun tidak ketemu istri, kan rasa rindunya kadung mengkristal macam kemenyan.Tapi apa daya, sesampainya di rumah bini juga tak ada di tempat. Karena istri jadi tenaga kerja wanita di Hongkong, bagaimana Kabul bisa menyalurkan “tenaga kuda:”-nya. Gara-gara ini pula agaknya, penyakit menylengnya kembali muncul.

Beberapa hari lalu habis magrib dia menggendong anaknya pergi ke rumah mertua. Tapi entah apa maksudnya, dia membawa martil segala. Begitu Anom Suroto membukakan pintu, bukan disambut dengan oleh-oleh, tapi malah digetok dengan martil. Tentu saja Anom Suroto yang tak bisa suluk dan ndalang ini langsung tumbang. Eh, masih ditelateni juga. Kembali kepala mertua digetok palu beberapa kali sampai benar-benar wasalam.

Untungnya, habis membunuh mertua dia langsung menyerahkan diri ke Polsek Babadan. Dalam pemeriksaan dia mengaku selalu dibayang-bayangi suara Ulini dari Kediri. Guru spiritual itu selalu mendesak Kabul untuk berbuat sesuatu. Akhirnya ya itu tadi, mertua digetok martil hingga tewas.

Kabul komplikasi tahu Kediri dengan ginseng Korea, ngkali. (AK/Gunarso TS)