Wednesday, 21 November 2018

Pamijahan Kental Dengan Religius

Jumat, 8 Juni 2012 — 0:51 WIB
iluspamijahan

PAMIJAHAN merupakan obyek wisata ziarah yang terletak di Desa Pamijahan, Kecamatan Bantarkalong, sekitar 65 km dari pusat Kota Tasikmalaya, Jawa Barat ke arah selatan dengan luas areal sekitar 25 hektar.

Tempat wisata ziarah ini tak pernah sepi. Karena di sini ada makam keramat Waliyulloh Syech Abdul Muchyi, tokoh penyebar syiar Islam di Jawa Barat.
Selain makan keramat itu, peziarah bisa menikmati keindahan sejumlah goa, di antaranya Goa Safarwadi.

“Setiap hari selalu ada peziarah yang datang ke Pamijahan. Apalagi malam Jumat, jumlah peziarah lebih banyak lagi. Begitu juga di hari-hari besar Islam, dan puncaknya pada bulan Maulid,” cerita Wandi, warga Desa Pamijahan.

Obyek wisata ziarah Pamijahan, selama ini dikenal kental dengan acara-acara religius dan berbagai ritual agama Islam. Pada hari-hari besar Islam, terutama pada bulan Maulid, lokasi ziarah ini dipadati ribuan pengunjung dari berbagai daerah.

Obyek wisata ziarah Pamijahan memang banyak dikunjungi wisatawan nusantara. Namun, hingga kini belum tercatat wisatawan mancanegara (wisman) yang berkunjung ke daerah ini.

“Bila dirata-ratakan, jumlah wisatawan nusantara yang berkunjung ke Pamijahan sekitar 522.129 orang per tahun,” jelas Wandi.

PALING BESAR

Bila dilihat dari target dan realisasi pendapatan, obyek wisata ziarah Pamijahan paling besar bila dibandingkan dengan obyek wisata lain di Kabupaten Tasikmalaya.

Berdasarkan data tahun lalu misalnya, target pendapatan sebesar Rp82.076.000, ternyata realisasi mencapai Rp88.395.500 atau 107 persen. Hal ini membuktikan bahwa obyek wisata Pamijahan sangat prospektif dan cukup besar memberikan kontribusi terhadap pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten Tasikmalaya.

Untuk menunjang obyek wisata ziarah ke kompleks pemakaman keramat Syech Abdul Muchyi di Pamijahan, perlu dibangun sarana akomodasi yang lebih representatif yang memenuhi syarat kesehatan terutama privasi sebagai tempat istirahat.

Kalau pun berbentuk barak-barak seperti yang selama ini dikerjakan penduduk setempat, namun dapat dilakukan penataan yang lebih representatif dan bersih.
Guna memberikan pelayanan yang lebih prima terhadap para penziarah dari segmen pasar lain, mungkin bisa dipikirkan sebuah alternatif, dengan dibangunnya penginapan yang lebih menjamin privasi.

“Sebaiknya, pembangunan lokasi penginapan tersebut tidak terlalu dekat dengan obyek wisata untuk menghindari kesan menyaingi penginapan yang dikelola penduduk setempat,” saran Wandi.

Fasilitas yang sudah tersedia, bangunan makam keramat Syech Abdul Muchyi, Goa Safarwadi, jalan lingkungan, kios wisata dan tempat parkir yang luas. (dono darsono)