Saturday, 25 May 2019

Budi Pekerti

Selasa, 19 Juni 2012 — 12:01 WIB

“DULU jarang ada tawuran pelajar. Sekarang kok sudah jadi mode, kalau enggak tawuran enggak enak kali,” kata Pak Leman, kawan sepengajian, ketika kami duduk mengobrol di dekat kantor RW.  Kantor RW di daerah kami boleh dibilang tetangga mesjid. Jadi kantor RW enggak susah-susah bikin tempat salat.

“Ya, dulu waktu masanya Pak Harto, demo juga jarang, boleh dibilang langka. Sekarang, tiada hari tanpa demo. Kalau tak ada demo, rasanya aneh,” sambut Pak Dudung yang duduk di dekat saya.

“Ya, setiap pemimpin punya masa tersendiri. Masa Soekarno, lain dengan masa Soeharto. Begitu juga masa Habibie, Gus Dur dan Megawati. Masa SBY sekarang beda lagi. Sama juga halnya dengan nabi, punya masa tersendiri,” kata saya.

“Saya enggak tahu persis. Dulu di sekolah kita diajari budi pekerti. Sekarang kan tak ada lagi,” kata Pak Leman yang pernah jadi guru.
“Ya, dulu cara duduk saja diatur. Hormat pada guru dan yang lebih tua,” kata Pak Dudung.
“Saya pikir, memang pelajaran budi pekerti perlu ada.  Saya bingung juga ada yang usul agar pelajaran anti-korupsi dimulai sejak SD, apa iya,” kata saya.

“Ya, anti-korupsi tak perlu jadi mata pelajaran. Begitu juga cara berlalu lintas. Bikin saja lagi pelajaran budi pekerti. Dasarnya semua di sini. Budi pekerti termasuk di dalamnya sopan santun. Sekarang kan sopan santun itu sudah dianggap kuno, enggak zamannya lagi. Padahal bagaimana juga sopan santun harus tetap ada,” kata Pak Dudung.

Saya enggak tahu persis, tapi rasanya Abang perlu pikirkan hal tersebut. Bagaimana agar di sekolah diajarkan kembali budi pekerti. Abang kan juga pernah alami waktu di Sekolah Rakyat dulu. Pelajaran budi pekerti besar manfaatnya di dalam membentuk tingkah laku.  Insya Allah jika  Abang masih dipercaya warga kota untuk memimpin kembali ibukota Jakarta, bisa dilaksanakan, kalau tak sempat sekarang.

Abang lakukan terobosan di dalam pendidikan. Bisa saja diawali dengan proyek contoh di beberapa sekolah. Mungkin hasilnya belum terasa di dalam satu dua tahun. Tapi yakinlah dalam tahun-tahun selanjutnya, insya Allah pelajaran budi pekerti akan bisa membawa perubahan. Kalau itu Abang lakukan, sejarah akan mencatatnya. Negara kita memerlukan budi pekerti, Bang.
(lubis1209@gmail.com