Sunday, 24 June 2018

Wanita Merasa Diintimidasi Polisi

Rabu, 20 Juni 2012 — 0:02 WIB
iluswanita

MAMPANG PRAPATAN (Pos Kota) – Sherlita Stephanie alias Lita merasa diperlakukan tidak adil dan diteror oleh beberapa petugas Polsek Mampang Prapatan yang menggelar razia di Jalan Bangka Raya, Jakarta Selatan. Wanita ini dituding memiliki narkoba. Ia mengaku dijebak polisi.

Uneg-uneg Lita dituangkannya dalam akun twitter. Ia memprotes perihal razia yang dilakukan petugas, Selasa (19/6) dinihari. “ Saya bukan pemakai narkoba. Kok dituduh membawa narkoba. Polisi menjebak saya, “ kata Lita.

Tulisan wanita ini kontan mendapat perhatian dan simpati ratusan follower. Umumnya, mereka menyesalkan sikap polisi yang dinilai tidak profesional. Tak sedikit yang menuding ulah polisi itu sebagai disengaja mencari kesalahan orang lain.

Menurut Lita, sekitar Pk. 01:30 ia bersama rekannya, Yasmin, pulang dari Kemang, Jakarta Selatan, menuju rumah di Tebet, Jakarta Selatan. Ketika melintas di Jalan Bangka Raya, tak jauh dari Apotek K-24, mobil Toyota Kijang Innova yang dikendarainya diberhentikan sejumlah polisi berseragam yang menggelar razia.
“Saya diminta membuka pintu mobil dan turun dari kendaraan,” ungkap Lita. Beberapa petugas langsung membuka pintu belakang. Tiba-tiba, satu dari sekitar sepuluh polisi berteriak mengaku menemukan obat-obatan yang disebut sebagai narkoba.

Polisi berseragam itu pun meminta agar bagasi kendaraan dibuka. Di sana, petugas menemukan kotak P3K berisi sejumlah obat pusing dan obat alergi. Polisi juga menuding obat itu sebagai narkoba.

Merasa tak pernah berhubungan dengan barang haram itu, Lita dan Yasmin bersikukuh empat butir obat itu bukan miliknya. “Saya bukan pemakai, apalagi pengedar,” ujarnya.

Upaya meyakini petugas, Lita dan Yasmin meminta agar dilakukan cek darah dan urine. Mereka juga minta polisi mengecek obat alergi yang disebut polisi sebagai narkoba ke apotek terdekat. Tapi, petugas menolaknya bahkan tetap menyebut obat itu sebagai narkoba. “Saya merasa diintimidasi,” kata Lita.

Dipaksa tetap berada di tempat, Lita meminta untuk bisa menghubungi keluarga. Semula, permintaan ditolak tapi ia tetap mendesak hingga bisa menghubungi adiknya.

Setengah jam, adiknya datang. Adiknya itu bicara baik-baik kepada petugas sambil meyakini kakak dan temannya itu bukan pengguna narkoba. Perdebatan berakhir saat adik Lita menyebut kenalannya seorang perwira tinggi di Polda Metro Jaya.

Setelah menyebut nama perwira tinggi itu, sikap polisi berubah. Mereka juga menyebut obat-obatan yang disita itu sebagai obat alergi. Lita diperbolehkan pulang. Namun polisi itu lupa membawa 4 butir obat yang disebutnya narkoba. Padahal, obat-obatan itu bukan milik Lita. Dan setelah dicek, ternyata benar itu adalah obat alergi, bukan narkoba.

Dikatakan Lita, dirinya menulis di tweeter secara spontan tanpa bermaksud apa-apa selain menumpahkan kekesalannya karena disudutkan membawa narkoba. Rupanya apa yang ditulis wanita yang bekerja di sebuah event organizer itu membuat heboh warga twitter.

Dikonfirmasi perkembangan terakhir kejadian yang menimpanya, melalui SMS Lita meminta maaf tak bisa diwawancarai. “Saya sudah konsultasi ke beberapa pihak dan diminta untuk tenang dan tak bicara lagi ke media. Maaf ya,” katanya.

SILAKAN LAPOR

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Rikwanto, mempersilakan Lita untuk melaporkan kejadian itu. Dia meminta masalah ini diselesaikan dengan cara yang baik. “Kalau merasa dijebak silakan melapor ke Propam Polda Metro Jaya. Jangan hanya bicara dan membuat permasalahan meluas tapi tidak ada jalan keluar,” katanya.

Kombes Rikwanto memastikan setiap kegiatan razia yang dilakukan polisi selalu memiliki standar operasional prosedur (SOP) yang disesuaikan dengan sasaran, mulai dari masalah narkoba, kelengkapan kendaraan, hingga terkait terorisme.

“Melakukan penggeledahan memang dibolehkan. Tentu dengan standar yang sudah ditetapkan. Siapa saja yang merasa dirugikan punya hak untuk melapor ke Propam,” ujarnya.

BERGANTI POSISI

Kapolsek Mampang Prapatan, Kompol Siswono didampingi Panit Binmas selaku Pawas Operasi Cipta Kondisi 2012, Ipda Johan Hafani, mengatakan saat itu petugas menghentikan mobil Kijang Innova yang melintas dari Kemang menuju Bangka.

“Mobil itu menepi dan terlihat pengemudi dan temannya berganti posisi duduk dalam keadaan panik. Selanjutnya anggota kami menghampiri mobil tersebut sambil mengucap salam dan memberi hormat,” ungkap Ipda Johan.

Selanjutnya, petugas meminta pengemudi dan penumpang untuk turun dari mobil guna menyaksikan pemeriksaan isi mobil. Petugas menemukan satu plastik klip bening yang berisi satu strip obat.

Petugas meminta penumpang melihat dan mengambil obat tersebut, namun perempuan itu malah teriak. ”Saya dijebak nih. Jangan jebak saya ya. Kalian tahu tidak, saya ini kenal dengan bapak pejabat Polri dan saya akan telepon adik yang juga kenal pejabat Polri,” katanya menirukan ucapan Lita.

“Setengah jam kemudian, adiknya datang. Kami jelaskan, obat itu ditemukan di karpet sebelah kiri jok penumpang yang ada di tengah mobil. Setelah mendapat penjelasan, adik dan perempuan itu meminta maaf,” katanya.

JEBAKAN

Istilah jebakan polisi bukan hal baru. Tak sedikit warga merasa polisi sengaja memasang perangkap menunggu pengguna jalan berbuat salah lalu menangkapnya.

Yosi, warga Serdang, Jakarta Pusat, mengaku kerap kena perangkap polisi ketika melintas di Jl. HBR Motik, Kemayoran, Jakarta Pusat. Saat ia berjalan menuju Jl. Gunung Sahari atau Jl. Industri, dari jalur lambat ke jalur cepat tak ada rambu lalulintas. “Kalau ada polisi langsung ditangkap. Oknum itu akan menilang atau menawarkan damai dengan membayar sedikitnya Rp50.000,” katanya. “Biasanya polisi yang menangkap itu satu atau dua orang, bukan razia yang dilengkapi papan tanda ada razia.”

‘Jebakan’ juga dialami Denis, warga Johar Baru. Ia distop polisi ketika melintas di Jl. Cideng Timut karena berbelok ke kiri. Ia dianggap salah padahal tak ada tanda larangan berbelok kiri sedang umumnya pengendara bisa langsung belok kiri. “Biasanya polisi keluar mendadak dari sekitar ruko lalu menilang atau mengajak damai padahal ada kendaraan umum berbelok tapi dibiarkan.”

Warga bisa menghindari jebakan seperti itu. Di antaranya dengan taat berlalulintas serta tak membawa barang terlarang seperti narkoba, senjata tajam, atau senjata api. Selain itu, perhatikan pula nama dan kesatuan petugas yang mencegat. Jika bersalah, terimalah surat tilang dan ikuti sidang.

Bila dituduh membawa narkoba, sebaik jangan menyentuh narkoba tersebut, sampai polisi menyentuhnya. Hal ini untuk memastikan siapa pemilik narkoba berdasarkan sidik jari yang ada di narkoba. Dalam rumus identifikasi sidik jari disebutkan, dari 10.000 orang, tak satu pun memiliki sidik jari yang sama. (adin/tiyo/yp/r)

  • Imran Khan

    Duh………… banyak banget dan semakin buanyak jebak-menjebak, rekayasa, intimidasi, arogansi, bahkan merangkap sbg debt collector dan backing dengan atas nama HUKUM, apa ini disebut negara HUKUM dengan aparat negara yang taat dan tunduk serta menghomati HUKUM demi HUKUM ?… duh……………. huancur ini…….. POLRI segerahlah berbenah jangan hanya pernyataan dan rethoric belaka. KEEP REFORMING. God willing.