Senin, 25 Juni 2012 08:06:37 WIB

Melestarikan Budaya dan Bahasa Lokal

BULAN-BULAN ini untuk mengembangkan nilai Budaya Jawa semakin berkembang pesat. Sebagai usaha dan upaya untuk melestarikan nilai-nilai Budaya Jawa ternyata lebih mencapai sasarannya. Upaya dan usaha itu tidak bicara mengenai Jawanisasi, tetapi justeru memasukkan nilai-nilai Budaya Jawa ke berbagai seni pertunjukan.

Sebagai contoh: Acara di televisi yang mengangkat Opera Van Java telah mampu menghadirkan nilai-nilai tentang perwayangan dan pertunjukan. Orang boleh bicara mengenai Opera Van Java tersebut dengan bermacam-macam pandangan. Tetapi masyarakat yang bukan orang Jawa mulai bertanya-tanya mengenai tokoh-tokoh wayang yang dikembangkan di Opera Van Java. Untuk itu Opera Van Java harus mampu mengembangkan nilai-nilai seni secara kreatif dalam penyajiannya tersebut.

Peran Televisi lokal khususnya di Jawa banyak mengangkat mengenai pertunjukan yang berdasarkan nilai-nilai Jawa. Sebagai contoh: Acara-acara Penembromo untuk anak-anak, acara Wayang Kulit, acara Ketoprak, acara Karawitan, acara Wayang Orang serta berita-berita berbahasa Jawa. Baik Jawa Timuran, Banyumasan dan lain-lainnya berkembang pesat.

Demikian juga sisipan Koran-koran lokal dengan sisipan laporan berbahasa Jawa menunjukkan betapa pesat dan berkembangnya nilai-nilai Jawa. Hal tersebut tidak bertentangan dengan keputusan UNESCO di mana Bahasa Jawa yang merupakan ”bahasa Ibu atau bahasa lokal” harus dilestarikan. Dengan demikian peran peran Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah dalam melaksanakan misi tersebut harus didukung oleh materi yang tepat dan efektif, didukung dengan dana yang memadai, didukung oleh persiapan-persiapan Guru Bahasa Jawa dengan baik serta kewajiban Pemda untuk mewujudkan adanya gamelan-gamelan di setiap SD, SMP, dan SMA.

Itulah antara lain konsekwensi logis yang dikaitkan dengan meningkatkan nilai-nilai budaya Jawa. Baru-baru ini penulis juga melihat adanya perkembangan di daerah-daerah di mana setiap Pemda dua kali seminggu karyawan dan masyarakatnya dianjurkan menggunakan Bahasa Jawa. Termasuk pada saat upacara bendera setiap pagi menggunakan cara dan pidato berbahasa Jawa. Penulis juga menghargai terhadap sekolah-sekolah, dalam upaya mencegah tawuran dan coret-coret serta perilaku yang sembrono ketika lulus SMP dan SMA, dengan mengharuskan murid-murid yang lulus menggunakan pakaian Jawa lengkap dengan beskab. Benar adanya, setiap murid menggunakan blangkon dan beskab lengkap, mereka datang ke sekolah dengan pakaian yang sopan dan tidak ugal-ugalan.

Hal tersebut di atas juga bisa ditiru oleh daerah-daerah lainnya. Daerah Pasundan dengan pakaian dan bahasa Sunda, begitu juga daerah Minang, daerah Melayu, daerah Bali, daerah Banjar, daerah Bugis, daerah Ambon, dan lain-lainnya. Semua dilaksanakan untuk menghormati keputusan UNESCO dalam menggunakan dan melestarikan budaya dan bahasa lokal. Monggo, silahkan!!*

Baca Juga

© "Poskota", "Poskota Online" adalah merk dagang milik PT. Media Antarkota Jaya. Poskota diterbitkan oleh PT.Media Antarkota Jaya sejak 15 April 1970 di Jakarta. Izin Usaha: SIUPP No. 0088/SK/Menpen/SIUPP A/7 1986 13 Maret 1986.