Saturday, 24 August 2019

Lokasi Hiburan di Depok Disegel Selamanya

Senin, 2 Juli 2012 — 21:04 WIB
Cafe Depok Disegel02 (Angga)-n

DEPOK (Pos Kota) – Menyusul aksi serangan ormas Islam untuk menertibkan warung remang- remang dan cafe di daerah Pondok Rangon, Harjamukti, Depok, Minggu (1/7) dini hari,  Satpol PP Kota Depok menempelkan selembaran di tiap kafe dan warung remang-remang untuk menutup tempat usahanya.

Cafe Pondok Rangon disegel Satpol PP karena dituding sebagai tempat maksiat. (Angga).

Penyerangan anggota ormas Islam ke sejumlah kafe yang berada dekat di pemukiman penduduk, mengakibatkan tiga motor dibakar. Dua kafe yang dimasuki oleh ormas dan diacak – acak isinya.

Kepala Seksi Penertiban Satpol PP Kota Depok, Diki Erwin yang memimpin penyegelan bersama 21 anggota gabungan Satpo PP, Polisi, dan Koramil setempat menempelkan selebaran yang isinya melarang untuk membuka kembali kafe dan warung remang-remang itu.

“Ada 27 lokasi yang telah kami tempeli selembaran pemberitahuan. Salah satunya tempat billiard,” ujarnya kepada Pos Kota di lokasi, Senin (2/7) . Operasi penempelan dimulai sekitar pukul 16:00 tanpa ada perlawanan dari pemilik kafe.

Diki menuturkan, lokasi dibangunnya kafe dan warung remang-remang berada di atas tanah milik negara. Sehingga bangunan yang sudah berdiri adalah bangunan liar tanpa mempunyai surat izin bangunan yang sah.

“Pemilik kafe melanggar beberapa Perda yaitu, Perda Kota Depok No. 14 Tahun 2001 tentang Ketertiban Umum, Perda Kota Depok  No. 21 tahun 2003 tentang Retribusi Izin Usaha Pariwisata, Perda Kota Depok No. 03  tahun 2006 tentang Bangunan dan Retribusi IMB, dan Keputusan Walikota Depok No. 821.29/188/Kpts/Pol PP/ HUK/ 2009 tentang Tim Operasi Penertiban Terpadu Kota Depok. Oleh karenan itu kami tertibkan demi kenyamana masyarakat banyak,” paparnya.

Lokasi pembangunan kafe menempati tanah negara, ” kata Diki Erwin, Kasi Satpol PP yang menyegel Cibubur Kafe. – Angga

Ditegaskannya, lokasi hiburan yang ditertibkan tidak hanya menjelang waktu puasa dan lebaran. Tapi penutupan untuk seterusnya. “Kami sudah bekerja sama dengan Muspida dan Muspika setempat sepakat untuk menutup tempat hiburan yang berbau maksiat di daerah Depok. Jika ada pemilik yang membadel tetap membuka tempat hiburannya kami akan tindak tegas,” tegas Diki.

Sementara itu, Ketua DPW Front Pembela Islam Kota Depok, Habib Idrus Al Qadri mengatakan, pihaknya mendukung untuk memusnahkan tempat-tempat maksiat bentuknya berupa cafe, warung remang-remang yang berada di Depok.

“Jika ada tempat maksiat kenapa harus dibiarkan, kami akan tindak tegas jika tidak ada kepastian dari Pemerintah setempat untuk menutup tempat-tempat maksiat yang ada di Depok,”paparnya kepada Pos Kota saat dihubungi lewat ponsel. (angga/M3/dms)

  • Martin Niemöller

    First they came for the communists.
    and I didn’t speak out because I wasn’t a communist.
    Then they came for the trade unionists.
    and I didn’t speak out because I wasn’t a trade unionist.
    Then they came for the Jews.
    and I didn’t speak out because I wasn’t a Jew.
    Then they came for me
    and there was no one left to speak out for me.