Rabu, 4 Juli 2012 00:26:16 WIB

Marwoto, Ki Enthus dan Nyi Suliah Berkoalisi

ilusmarwoto

JAKARTA (Pos Kota) – Dua pelawak kenamaan, Marwoto Kawer dan Nyi Suliah, akan ‘berkoalisi’ dengan dalang kondang Ki Enthus Susmono dalam pentas wayang kulit, Jumat (6/7) malam, di Lapangan CNI, Puri kembangan, Jakarta Barat. Pergelaran yang diadakan oleh Harian Pos Kota dalam rangka HUT ke-485 Kota Jakarta itu akan menghadirkan lakon Wahyu Cakraningrat.

“Berkolaborasi dengan Ki Enthus itu paling enak, soalnya bahasanya komunikatif. Saya bisa nyaut dalam kesempatan apa saja, dan saling mengisi,” kata Marwoto saat dihubungi, Selasa (3/7). Saling mengisi yang ia maksudkan, kalau Ki Enthus sudah mengeluarkan kritik keras, ia menahan. “Kalau kurang tajam, saya ikut menambahkan,” katanya.

Dia pun sangat enjoy berduet dalam lawakan dengan Nyi Suliah dari Banyumas. Menurut pelawak senior asal Sleman, Yogyakarta itu, gaya Banyumasan Nyi Suliah yang medok dan unik justru membuat dirinya gampang menimpalinya. “Ya, saya sering manggung sama Bu Suliah. Selalu membuat suasana riang dan ger-geran,” katanya.

HADIAH MOTOR

Guna menambah gairah penonton pentas wayang kulit semalam suntuk tersebut, panitia menyediakan doorprize dengan hadiah-hadiah yang memikat. Penonton diingatkan agar tidak lupa mengumpulkan Kupon Doorprize yang termuat di koran Pos Kota. Pengumpulan diantarkan ke lokasi pertunjukan di Lapangan CNI Puri Kembangan, Jakbar.

Hadiah utama yang disediakan adalah sebuah sepeda motor baru yang akan diundi di tengah-tengah pertunjukan. Selain itu juga ada sejumlah hadiah yang diundi berdasarkan guntingan kupon yang harus disertai nama dan alamat sesuai nomor KTP masing-masing.

Doorprize itu akan diumumkan saat adegan Limbukan (sekitar jam 23.00), lantas acara Goro-goro (sekitar pukul 02.00), dan kesempatan yang ada.

MORALITAS KEKUASAAN

Menurut pengamat wayang lulusan Sastra Jawa UI Fatchuroman, di saat akan adanya pergantian kekuasaan, lakon Wahyu Cakraningrat sering dipentaskan. Lakon ini menekankan moralitas dalam memenggapai kekuasaan. “Bukan asal untuk mendapat dengan berbagai cara, tetapi juga harus dipertangung jawabkan di hadapan Tuhan,” ujarnya.

Dalam lakon itu tiga kesatria berlomba-lomba mendapatkan Wahyu Cakraningrat, yaitu Raden Lesmana Mandrakumara, putra mahkota kerajaan Astina, Raden Samba putra mahkota Dwarawati, dan Abimanyu anak Arjuna.

Lesmana bertapa di gunung Gangga Warayang sebelah timur, dengan ditemani Sengkuni, Drona, dan para Kurawa. Samba pun menuju gurung itu, tapi saat di jalan bertemu dengan rombongan Kurawa, Samba memilih menyingkir, dan bertapa di sisi barat. Ada pun Abimanyu, berangkat ditemani panakawan Semar, Gareng, Petruk, Bagong. Ia bertapa di sisi selatan.

Berbulan-bulan mereka bertapa, hingga suatu saat ada sinar terang jatuh dan menimbulkan suara luar biasa di sisi timur. Kelompok Korawa bersuka ria, karena merasa sinar itu wahyu yang masuk ke tubuh Lesmana. Mereka pun pulang. Di perjalanan, Lesmana kesal karena melihat ada orang tidak memberi hormat pada dirinya. Ia pun marah, orang itu ditendangi oleh para Korawa.

Orang itu hilang, berubah menjadi cahaya yang masuk ke tubuh Lesmana tapi keluar lagi. Seketika itu jatuhlah Lesmana hingga pingsan. Ternyata itu tadi ujian dewa, wahyu telah lenyap. Para Korawa mengejar perginya wahyu itu.
Ternyata wahyu hinggap di sisi barat gunung. Wahyu masuk badan Samba, sehingga jadi digdaya. Korawa menyerbu, tapi tak sanggup melawan Samba. Kini Samba jadi sombong, merasa jadi penguasa jagad. Ujian bagi Samba datang, perempuan cantik dan lelaki tua ingin mengabdi. Samba menerima, tapi tak mau menerima lelaki tua itu. Si perempuan marah, akibatnya wahyu pun lepas.

Sementara itu, panakawan yang menunggu Abimanyu, di malam hari merasa seperti ada bayangan hitam, dan terdengar suara, Abimanyu sudah mendapat wahyu. Maka mereka pulang ke kerajaan Amarta. Namun, Korawa tetap ingin wahyu itu, mereka ingin merebutnya. Peperangan pun terjadi. (winoto/us/o)

Baca Juga

© "Poskota", "Poskota Online" adalah merk dagang milik PT. Media Antarkota Jaya. Poskota diterbitkan oleh PT.Media Antarkota Jaya sejak 15 April 1970 di Jakarta. Izin Usaha: SIUPP No. 0088/SK/Menpen/SIUPP A/7 1986 13 Maret 1986.