Jumat, 6 Juli 2012 09:50:24 WIB

Kini Anak Punk, Masalah Serius di Kota Tangerang

punk

MENGEJUTKAN, barangkali kata ini bisa menggambarkan permasalahan anak jalanan (anjal), gelandangan dan pengemis (gepeng) di Kota Tangerang karena ledakannya bila tidak ditangani secara benar akan menimbulkan permasalahan serius.

Berdasar pemantauan anjal dan gepeng kini mudah ditemukan, dan hampir menguasai lokasi strategis di Kota Tangerang, kota yang terus beranjak menjadi kota metropolitan di Nusantara ini. Antara lain di perempatan Jl. Muhammad Yamin,
Perempatan Ciledug, Jatiuwung, kawasan Perumnas, Jl Daan Mogot, kawasan pasar dan mal, sampai tepian-tepian jalan yang ada.

Memang belum ada pendataan khusus tentang jumlah anjal dan gepeng, tetapi diperkirakan bisa mencapai ratusan anjal dan gepeng. Bahkan di antaranya ada yang berpenyakit kusta, yang memang belum diketahui sudah sembuh atau masih dalam pengobatan.

Mereka berkelana dari satu jalan ke jalan lain, dari satu perempatan jalan ke perempatan jalan lain, bahkan dari satu pasar ke pasar lainnya, untuk mengemis belas kasihan warga. Memang ada yang berbelas kasihan dengan memberi sedekah recehan, tetapi banyak pula yang merasa terganggu dengan kegiatan mereka.
“Kemiskinan memang sudah ada di mana-mana, ya kasihan juga,” kata Ilham, pengendara sedan hitam di Perempatan Jl. Muhammad Yamin, yang lalu membuka jendela mobilnya dan memberi uang seribuan kepada seorang gepeng. Namun, tak lama datang beberapa gepeng meminta sedekah serupa, Ilham pun memberi kembali sedekahnya.

Di permukiman yang berdekatan pasar tradisional, sejumlah warga resah dengan semakin banyak anak jalangan yang sering disebut anak punk yang memanfaatkan pelataran pasar untuk tempat menginap mereka di malam hari.

“Kami khawatir, bila mereka semakin banyak, nantinya akan berulah macam-macam, seperti tindakan kriminal, karena mereka kan butuh makan,” tutur Ny. Ida, warga tinggal di dekat Pasar Malabar, kawasan Perumnas Karawaci.

Harus diakui kini anjal dengan pakaian aneh-aneh dan terkesan tak pernah mandi banyak ditemukan di lokasi strategis, di antaranya di pemutaran kendaraan. Mereka mencoba mengais rezeki dengan menjadi pengatur lalulintas dadakan di pemutaran di sejumlah jalan.

RAZIA DAN PEMBINAAN

Selama bertahun-tahun ini, Pemkot Tangerang melalui jajaran petugas Dinas Sosial Kota Tangerang dibantu Satpol PP Kota Tangerang, hanya bisa melakukan razia terhadap anjal dan gepeng, yang tentu saja menjadi tunggang-langgang saat dilakukan operasi di tempat-tempat mangkal mereka.

Setelah tertangkap, mereka pun didata dan diberi pilihan untuk kembali pulang ke kampung halamannya atau dibina dengan dikirim ke panti rehabilitasi di Jakarta untuk diberi pelatihan.

Ada lagi satu pilihan, bagi anjal mereka bisa memilih menjadi penghuni rumah singgah yang disediakan Dinas Sosial di Jl. KH Soleh Ali untuk selanjutnya dibina dengan diberi keterampilan dan mental keagamaan.

Namun anehnya, meskipun berulangkali digelar razia, ternyata keberadaan anjal dan gepeng tak pernah surut di banyak lokasi strategis di Kota Tangerang. Bahkan sebagian dari mereka adalah anjal dan gepeng wajah lama. Yang unik, gepeng berpenyakit kusta selalu aman dari razia, kemungkinan besar petugas enggan menangkap mereka.

PERLU PERDA
Menyadari rumitnya penanganan dan pembinaan anjal dan gepeng, akhirnya Pemkot Tangerang direstui DPRD Kota Tangerang menerbitkan Perda Pembinaan Anak Jalanan, Gelandangan, Pengemis dan Pengamen, sepekan kemarin.

Dengan payung hukum ini, Pemkot Tangerang berharap penanganan dan pembinaan anjal dan gepeng bisa lebih berdaya, di antaranya dengan membina mereka tak lagi menggelandang tetapi ditempatkan di rumah-rumah singgah yang akan dibangun.
Selanjutnya di rumah singgah yang dibangun di dekat aktifitas keseharian anjal-gepeng, para penyandang masalah sosial ini dibina mental kemandirian, keterampilan, dan sisi agamanya, sehingga mau mengubah mentalnya menjadi manusia yang hidup normal.

Lalu, orang yang mengkoordinir anjal dan gepeng akan dikejar dan diproses tindakan melawan hukumnya. Sementara bagi warga Kota Tangerang pun akan diimbau untuk tak lagi memberi sedekah kepada anjal dan gepeng di perempatan jalan dan tepian jalan. (djamal)

Baca Juga

© "Poskota", "Poskota Online" adalah merk dagang milik PT. Media Antarkota Jaya. Poskota diterbitkan oleh PT.Media Antarkota Jaya sejak 15 April 1970 di Jakarta. Izin Usaha: SIUPP No. 0088/SK/Menpen/SIUPP A/7 1986 13 Maret 1986.