Friday, 18 January 2019

Polwan Kok Dilawan

Senin, 9 Juli 2012 — 14:07 WIB
dia-9-juli

PACARAN dengan Polwan harus hati-hati. Tak takut dengan “benda dingin”-nya, musti takut dengan ilmu bela dirinya. Tak percaya, lihat nasib Atmadi, 55, PNS dari Sulsel ini. Kepergok selingkuh oleh kekasihnya, Kompol Wahyuni, 47, langsung di KO dengan tinjunya. Apa lagi dua anak sang Polwan juga membantu, bonyoklah pegawai Dinas Pertanian ini.

Tak semuanya Polwan itu cantik dan seksi. Tapi rata-rata, mereka memang berbodi seksi…….menggiurkan. Tak mengherankan, Poltik (polwan cantik) kini menjadi andalan untuk meredam aksi demo. Sebab sesangar-sangarnya lelaki, menghadapi perempuan cantik biasanya menjadi luluh. Jangankan pendemo, Bung Karno saja mengakui, jika menghadapi wanita dia menjadi luluh, sekeras apapun tadinya.

Wanita cantik dan seksi memang selalu menjadi idaman kaum pria, termasuk Atmadi, duda setengah baya dari kota Makasar. Tak tahan kesepian hidup menduda, dia segera menebar cakrawala asmara, sehingga cintanya kemudian jatuh pada janda Polwan bernama Kompol Wahyuni. Meski sudah balita (di bawah lima puluh tahun), tapi masih cukup STNK (Setengah Tuwa Ning Kepenak). Mereka sudah sama-sama cocok, dan siap menikah membangun keluarga sakinah.

Celakanya, sebagai pejabat Dinas Pertanian, rupanya Atmadi suka “bercocok tanam” sembarangan. Sementara Wahyuni belum bisa “ditanami” sebagaimana mustinya, dia kebelet “bercocok tanam” di tempat lain. Maklumlah, sebagai lelaki normal pejabat Pertanian ini sudah sekian musim tanam tak pernah lagi “bercocok tanam” di lahan yang tak seberapa luas. Dalam kondisi kepepet bin kebelet, dia lalu membawa seorang gadis yang jauh lebih muda ke sebuah hotel.

Nah, Atmadi yang pejabat Dinas Pertanian itupun mencangkul dan bercocok tanam sepuas-puasnya. Kalau capek, dia berdiri sambil bersandar pada si doran (tangkai) pacul. Jikalau mau mulai mencangkul kembali, diludahi kedua tangannya, lalu pegang doran dan mulai gaclok gaclok lagi. “Cangkul, cangkul, cangkul yang dalam, menanam jagung di kebun orang….,” begitu kata Atmadi penuh semangat.

Tapi sial kali ini. Belum juga sempat sandarn doran pacul setelah mencangkul, eh kepergok oleh Kompol Wahyuni yang kebetulan masuk ke hotel dimaksud. Sebagai polisi, dia tahu apa artinya semua ini. Begitu kecewanya, tanpa banyak kata dia langsung pulang tanpa menegur sang kekasih. Atmadi yang merasa bersalah mencoba klarifikasi, tapi Polwan itu sudah pergi kembali ke rumah.

Atmadi terus memburunya ke rumah Wahyuni, tapi tak juga diberi pintu. Dia pun langsung nekad loncat tembok dan berhasil masuk ke dalam. Meski Kompol Wahyuni berwajah sangar, dia terus merayu dan membujuk agar hubungannya tak diputuskan begitu saja. Tapi Wahyuni yang sudah sangat kecewa, tak menjawab sepatah katapun kecuali tinjunya yang melayang, bet bet bet.

Oknum pejabat Dinas Pertanian itu langsung sempoyongan. Tapi sebelum jatuh langsung diterima oleh kedua anak lelaki Kompol Wahyuni yang sudah remaja. Ditolong? Bukan, justru mereka menambah lagi dengan sejumlah pukulan sehingga Atmadi pun semakin bonyok. Dalam wajah simpang siur dia segera kabur dari rumah kekasihnya, untuk melapor ke Polrestabes Makasar. “Kami belum suami istri, jadi ya bukan KDRT, kira-kira penganiayaan lah….,” kata Atmadi agak kikuk.

Atau, perbuatan tidak menyenangkan, gara-gara perbuatan mengasyikkan? (KC/Gunarso TS)