Tuesday, 24 April 2018

Teknologi Garis Gawang Segera Diuji-coba

Senin, 9 Juli 2012 — 8:51 WIB
gol-hantu-1

ZURICH (Pos Kota) – Teknologi garis gawang dalam sepakbola siap-siap diterapkan. Pada rapat di markas FIFA di Zurich, Swiss, Dewan Asosiasi Sepakbola Internasional (IFAB) menyetujui penerapan dua sistem teknologi garis gawang, Hawk-Eye dan GoalRef.

Kedua sistem diunggulkan dari sembilan usulan yang sampai ke IFAB, badan dalam FIFA yang menentukan regulasi sepakbola. Kedua sistem akan dicoba kelayakannya pada Piala Dunia Antarklub di Jepang, Desember 2012. Untuk kemudian dicoba lagi pada Piala Konfederasi 2013, sebelum ditentukan apakah layak digunakan pada Piala Dunia 2014 di Brasil.

Perlunya teknologi garis gawang sudah mencuat beberapa tahun lalu, semenjak kontroversi saat laga Liga Inggris antara MU-Tottenham Hotspur yang berakhir 0-0 pada tahun 2005. Ketika itu, kiper MU, Roy Carroll mengantisipasi tendangan Pedro Mendes yang telah mewati garis gawang, namun wasit tidak menganggapnya sebagai gol.

FIFA kemudian sempat mencoba sistem chip yang ditanam di bola pada Piala Dunia U-17 di Peru pada 2005. Namun Presiden FIFA, Sepp Blatter, ketika itu menentang penggunaan teknologi garis gawang. Pikiran Blatter akhirnya berubah pada Piala Dunia 2010. Saat menyaksikan tendangan Frank Lampard yang sudah melewati garis gawang ketika Inggris melawan Jerman tidak disahkan wasit.

Peristiwa serupa terjadi saat Ukraina melawan Inggris di Piala Eropa 2012. Tendangan Marko Devic sudah melewati garis gawang, namun tidak disahkan wasit. Blatter semakin yakin bahwa sepakbola membutuhkan teknologi garis gawang.”Bagi saya Presiden FIFA, semuanya menjadi nyata setelah momen di Piala Dunia 2010,” tandas BLatter dilansir Eurosport.

CARA KERJA

Sistem Hawk-Eye merupakan sistem asal Inggris yang dibeli Sony Corporation pada Maret 2011. Sudah diterapkan pada olahraga tenis dan kriket. Sistem ini menggunakan enam kamera super cepat yang mampu mengambil 500 frame pergerakan bola per detik.

Seperti yang digunakan ketika Inggris melakoni laga persahabatan melawan Belgia di Stadion Wembley, 2 Juni 2012, jaring gawang harus berwarna hitam dan terdapat tiga titik di masing-masing tiang gawang. Jika bola melewati garis gawang, sinyal radio akan dikirim ke jam yang digunakan wasit dan memberitahu bahwa gol telah tercipta hanya dalam kurang dari sedetik.

GoalRef merupakan proyek Denmark-Jerman dikembangkan oleh mantan wasit internasional Peter Mikelsen.Sistem ini menggunakan chip yang ditanam di bola. Antena elektro-magnetik ditaruh di sekitar tiang dan gawang. Ketika bola melewati garis gawang, gelombang elektro-magnetik akan dikirim ke jam sang wasit. Sistem ini lebih cepat karena tidak mengandalkan gambar seperti Hawk-Eye. Sistem GoalRef ini juga jauh lebih murah daripada Hawk-Eye.

PRO KONTRA

Namun sejauh ini, Presiden UEFA, Michel Platini, masih menentang keras penggunaan teknologi tersebut. Platini menilai teknologi akan membunuh keindahan sepakbola. Dia khawatir, penentuan offside, handball dan keputusan penalti, harus ditentukan lewat teknologi. Mantan pemain timnas Prancis itu lebih mengkampanyekan sistem lima wasit dalam satu pertandingan di Eropa.

Manajer Chelsea, Roberto Di Matteo berharap teknologi garis gawang bisa segera diterapkan. “Kita melihat setiap musimnya, di setiap turnamen besar, kita membutuhkannya. Karena ada sejumlah momen krusial yang harus Anda cari solusinya lewat teknologi,” tegasnya. (awang)

Foto Reuters