Wednesday, 27 March 2019

Merah Kata Simbah….

Selasa, 10 Juli 2012 — 10:07 WIB
nah-sub

SESUAI dengan nama panggilannya, Simbah, 24, sangat dipatuhi teman-teman. Termasuk saat diminta mengeroyok tukang parkir, Jimanto, 27, gara-gara soal perempuan. Padahal gara-gara perintah Simbah, dua anak muda jadi urusan polisi. Tapi begitulah kesetiakawanan, merah kata simbah, merah pula kata para pengeroyok.

Di masa Orde Lama, terdapat loyalis Bung Karno yang bernama Letjen (KKO) Hartono. Begitu loyalnya pada BK, dia bersemboyan: “Merah kata Bung Karno, merah pula kata KKO.” Tapi sebagaimana nasib loyalis Bung Karno yang lain, dia juga tersia-siakan nasibnya dalam pemerintahan Orde Soeharto. Sore itu pulang dari tugas sebagai Dubes Korsel, tahu-tahu esuk pagi dikabarkan mati bunuh diri (7 Januari 1971). Tetapi seperti diberitakan koran secara tersamar, dia menjadi korban pembunuhan misterius.

Nah, Simbah warga Gondokesuman Yogyakarta, jua punya sejumlah loyalis. Mereka adalah Mangku, 25, dan Mursid, 22. Meski masih demikian muda, Simbah sangat disegani oleh kawan-kawannya, minimal keduanya itu. Pendek kata, merah kata Simbah, merah pula kata Mursid dan Mangku. Demikian ngestokake (penurut) atas dawuh (perintah) Simbah, mereka siap melakukannya meskipun hal itu juga membahayakan diri sendiri.

Alkisah, Simbah dilanda duka dan kecewa tiada tara. Masalahnya, dia pernah memergoki istri tercinta, Genuk, 22, dijimak (disetubuhi) oleh Jimanto yang sahabatnya juga. Tapi untuk protes atau mencegah perbuatan amoral itu, Simbah tak punya keberanian. Maklum, Jimanto ini berpostur tinggi besar. Sedang tubuh Simbah hanya seadanya: tipis, kerempeng, pantat ngelot (baca: tepos) lagi. Bisa dibayangkan, sekali banting Simbah bisa langsung dikirim ke Kuncen (TPU di Yogya – Red).

Ingin sebenarnya Simbah melupakan kisah mesum itu. Tapi mana kala melihat istrinya, dia langsung ingat ketika keduanya berbuat asusila di depan matanya. “Bajindul, masak saya hanya dapat restan Jimanto. Jan ora urus tenan (kurang ajar betul),” maki Simbah di depan kedua loyalisnya, Mangku dan Mursid.

Simbah pun memberi perintah kepada kedua loyalisnya, untuk memberi Jimanto pelajaran. Pelajaran apa, Ilmu Fisika apa Ilmu Hayat? Bukan. Maksudnya, agar Jimanto digebuki hingga lenggek-lenggek (payah). Dengan cara itu Simbah berharap bahwa sahabatnya itu tak gegabah lagi pada dirinya. Wong katanya bersahabat kok filosofinya: tega larane ora tega penake.

Mangku dan Mursid memang loyalis sejati. Tanpa berfikir akan resiko yang mengancam dirinya, dia siap menjalankan tugas. “Merah kata Simbah, merah pula kata kami,” begitu tekadnya. Dengan dikawal Simbah sendiri, malam itu mereka bertiga menuju rumah Jimanto di Desa Samirono Kecamatan Depok, Sleman. Jimanto yang sedang terlena dibangunkan dengan paksa dan serta merta ditantang gelut.

Dengan mata yang masih hayub-hayuben (setengah ngantuk), Jimanto diingatkan akan skandal seksnya bersama Genuk istri Simbah. Kontan matanya mak byarrr melek mendadak. Mangku – Mursid yang lancang mulut itu segera diterjang. Tapi dikeroyok dua lelaki, apa lagi Simbah kemudian juga nimbrung, Jimanto roboh dengan sejumlah bacokan. Sementara Jimanto masuk RS, polisi Polsek Bulaksumur berhasil menangkap Simbah bersama kedua loyalisnya. “Ini semua demi kesetiakawanan.” Kata Mangku pada polisi.

Merah kata Simbah, Jimanto yang pakai obat merah! (HJ/Gunarso TS)