Wednesday, 27 March 2019

“Ngelompok” Dalam Kamar

Rabu, 11 Juli 2012 — 15:14 WIB
NID-11-Juli

KETUA  kelompok tani berkelompok dengan para petani, itu biasa. Tapi Darmasto, 40, dadi Sleman (DIY) ini beda. Malam-malam digerebek warga justru sedang “ngelompok” di kamar bersama istri orang. Memang belum sempat berbuat, tapi jika tengah malam sudah lepas baju bersama wanita, mau apa hayo?

Jaman Orde Baru, petani berkelompok sambil mendengarkan radio, namanya: Kelompencapir (kelompok pendengar, pembaca dan pirsawan). Program pemerintah besutan Menpen Harmoko itu mengajak para petani untuk berkelompok, lalu berdikusi soal pertanian yang diperoleh dari siaran pedesaan di radio, ditonton di TV maupun dibaca di lembaran KMD (Koran masuk desa). Dengan cara itu petani diharapkan bisa maju, dan swasembada beras pun tercapai.

Beda jaman, ternyata beda kebiasaan. Ini setidaknya bagi Darmasto, yang jadi Ketua Kelompok Tani “Marga Makmur” di Desa Margoluwih Kecamatan Seyegan, Sleman. Diskusi sampai tengah malam bukan dengan anggota kelompok tani, tapi justru dengan istri orang. Tempatnya pun bukan di balai kampung, melainkan di dalam kamar milik Ny. Yatmi, 35. Nah…., kalau model begini sih, sampai ngebyar (bedug subuh) juga betah.

Sebagai ketua kelompok tani, Darmasto memang tahu jenis padi apa saja yang nasinya pulen,  masa tanamnya pendek dan rasanya enak. Ternyata,  dalam soal wanita, dia juga tahu mana perempuan yang “pulen” dan wangi macam beras Cianjur atau Rajalele. Kata Darmasto, perempuan “pulen” model begini enak dipuluk (dimakan) kapan saja meski sega thok (tanpa lauk) atau hanya dengan sambel trasi.

Di mata Darmasto, wanita berkategori “pulen” bin menul-menul itu ternyata tetangga sendiri, Ny. Yatmi. Dalam usia belum kepala empat, bodinya memang seksi menggiurkan, kulitnya putih lagi. Kalau ada cacat, hanya satu: kenapa sudah jadi bini orang, yang tak lain Kamijo yang juga masih famili sendiri.

Tapi untuk urusan asmara, sering melintasi batas etika dan moral. Contohnya ya si Darmasto ini. Meski Yatmi adalah istri famili sendiri, terus saja “ditelateni”, dicari lengah dan peluangnya. Apa lagi sepertinya si Yatmi juga memberi lampu hijau, sehingga dia semakin berani saja intevensi ke kubu musuh di luar selimut. “Kowe lunga, bojomu tak grumut (kamu pergi istrimu saya serobot),” begitu ancam Darmasto dalam hati.

Dan ancaman itu ternyata sudah bukan ancaman lagi, karena sudah acapkali dilakukan. Di kala Kamijo tak di tempat, dia menyatroni Yatmi. Awalnya sekedar ngobrol-ngobrol, tapi begitu situasinya benar-benar aman terkendali, hubungan mesum pun dilakukan. Dan benar sekali apa yang menjadi prediksi Darmasto, Ny. Yatmi memang “pulen” macam beras Rajalele made in Delanggu (Solo).

Mungkin terlalu sering jadi lelaki subita (suka bini tetangga), lama-lama warga mencium tak terpuji itu. Seperti yang terjadi beberapa hari lalu, saat Kamijo pergi ke Nganjuk urusan kelaurga, pukul 23.30 Ketua Kelompok Tani ini masih “berkelompok” dalam kamar Yatmi. Seorang warga yang memergoki adegan itu segera lapor Pak RT dan kemudian digerebek. Warga tak mengambil tindakan langsung, kecuali hanya mengunci keduanya dari luar.

Setelah polisi Polsek Seyegan datang, baru pintu kamar dibuka dan diserahkan kepada pihak yang berwajib. Dalam pemeriksaan keduanya berkilah, malam itu hanya duduk-duduk ngobrol saja, tak berbuat macem-macem. Tapi kenapa kok buka baju segala? Hayo…….

Suhu udara panas, apa nggak boleh ngliga (telanjang dada). (HJ/Gunarso TS)

  • nina

    BEBAS ITU SEpi
    JANDA islam SWASTA
    Klp.SAWIT
    Ana-30th,”Crai mati”,
    t162/53kg,Kuning SEXY & HOT
    Kenal cukup kirim pesan
    ke kotak SMSbox caranya: Ketik GR WJ2831 kirim Ke-9969
    khusus FLexi