Wednesday, 17 July 2019

Ternyata Hanya Kopahsus

Jumat, 13 Juli 2012 — 9:42 WIB
dia-13-juli

WIRONO, 43, pikir, orang takut jika dirinya ngaku sebagai anggota Kopasus Cijantung atau Kartosura (Solo). Tapi gertakannya tak mempan, bahkan dia digerebek setelah lama nginep di rumah janda. Dalam pemeriksaan polisi, Wirono ternyata bukan Kopasus, kecuali kopahsus (kordinator sampah khusus) alias pemulung!

Nama Kopasus (Komando Pasukan Khusus) terangkat namanya sejak bernama RKAD (Resimen Para Komando Angkatan Darat), karena berhasil menumpas pemberontakan PKI tahun 1965. Di bawah komando Kol. Sarwo Edhie Wibowo, pasukan  baret merah bergerak cepat menguasai asset-aset vital milik negara yang dikuasai PKI. Sayang nasib baik tak berpihak pada tokoh dari Purworejo ini. Ikut bersama-sama menegakkan Orde Baru, oleh Pak Harto ujung-ujungnya hanya dijadikan Kepala BP-7, ngurusi pemasyarakatan Pancasila.

Namun demikian nama RPKAD yang kemudian menjadi Kopasus sekarang, tetap menjadi pasukan yang disegani. Rupanya Wirono dari Mbawen Semarang tahu persis akan hal ini, sehingga untuk keselamatan dirinya, dia berani mencatut nama besar korps baret merah tersebut. Saat digerebek warga gara-gara nginep di rumah janda  Sulastri, 39, langsung main gertak Pak RT. “Jangan macem-macem kamu, saya Kopasus, tahu….!”

Wirono yang pekerjaan sehari-harinya jadi kordinator pemulung, biasa mencari barang sampai ke Yogya dan Solo. Dari situ dia lalu sempat kenalan dengan janda STNK (Setengah Tuwa Ning Kepenak), Ny. Sulastri warga Desa Banaran, Galur, Kulonprogo DI Yogyakarta. Ternyata, sesuai dengan profesinya, dianggapnya janda itu juga barang bekas, mau dipulungnya juga olehnya!

Memang sih, meski dipulung nantinya hanya akan dipakai kalangan sendiri alias not for sale. Agaknya janda Sulastri juga sangat memahami aspirasi urusan bawah si boss pemulung, sehingga meski dia menginap berhari-hari di rumahnya, tak pernah keberatan. Baginya, tubuh Wirono enteng-enteng saja, karena meski sudah beberapa kali “ditindih”-nya hepi-hepi saja, bahkan merem melek.

Pengurus RT pernah menyarankan pada Sulastri, agar tamunya melapor kepada pengurus RT. Tapi imbauan itu hanya “diprekkan” saja alias tak digubris. Asal sudah nginep di rumah si janda, dia ngendon terus dalam kamar seharian. Maka warga pun menduga, pastilah sudah ada praktek-praktek mesum antara keduanya. “Laki perempuan bukan muhrim dalam kamar seharian, kalau nggak zina mau apa?” kata warga.

Beberapa hari lalu kembali Wirono datang dan ngendon di kamar Sulastri sampai berhari-hari. Kali ini, habis sudah kesabaran warga, sehingga sekitar pukul 19.30 malam rumah janda itu digerebek. Tapi boss pemulung itu bukannya merasa bersalah, justru menggertak Pak RT bahwa dirinya anggota Kopasus. Karena memang potongan dan jahitan Wirono tak ada sama sekali sebagai TNI, langsung saja dia digelandang dan diserahkan ke Polsek Galur.

Dalam pemeriksaan Wirono menjawab berbelit-belit, tapi ujung-ujungnya mengaku bahwa dirinya hanya kordinator pemungut sampah khusus, bukan Kopasus. Atas dugaan telah melakukan perzinaan dengan janda Sulastri, polisi sudah mencoba melakukan penggeledahan. Tapi hingga kini tak ditemukan barang bukti, sehingga setelah ditahan 1 X 24 jam terpaksa Wirono dilepaskan.

Ngaku Kopasus kok senjatanya tongkat pengait. (HJ/Gunarso TS)