Wednesday, 17 July 2019

Srikandi Ajar Naik Motor

Senin, 16 Juli 2012 — 17:03 WIB
dia

KELAKUAN Wahyudin, 35, mirip-mirip Harjuna dalam cerita wayang. Dia mengajari gadis Anida, 18, belajar naik sepeda motor. Tapi karena “kesetrom”, justru gadis itu yang kemudian “dinaiki” di sebuah hotel. Bedanya, Harjuna dikawinkan dengan Srikandi, Wahyudin dilaporkan kepada polisi.

Dalam cerita pewayangan dikisahkan, Harjuna yang mengajari memanah Srikandi putri Prabu Drupada dari Pancala, lama-lama jatuh cinta pada Srikandi. Tapi Srikandi tak langsung menerimanya, karena Prabu Jungkungmardeya dari Paranggubarjo juga menaksirnya. Lewat bantuan Dewi Larasati, maksud Harjuna terkabul, sementara Prabu Jungkungmardeya juga berhasil dikalahkan. Nah, dari mengajari memanah, akhirnya Harjuna berhasil memanah Srikandi langsung pada sumbernya.

Mungkin terilhami kisah Harjuna – Srikandi, Wahyudin warga Surabaya ini memencoba menerapkan ilmu-ilmu Harjuna dalam menjebak wanita, agar dia bertekuk lutut dan berbuka paha untuknya. Padahal, gara-gara memburu kenikmatan sesaat itu, Wahyudin kini jadi pesakitan di Polresta KP-3 Tanjungperak. Apa nggak rugi besar, anget-angetan sebentar lalu harus berdingin-dingin beberapa tahun di penjara.

Agaknya Wahyudin ini memang lelaki mata keranjang. Mesti sudah punya istri dan dua anak, melihat cewek cantik, matanya masih melotot, macam kucing lihat ikan dendeng. Terhadap Anida misalnya, dia sudah lama “ngancam” banget, kapan ya bisa menikmati tubuh mulusnya? Maklum,  dalam usia belum kepala dua, bodi pelajar SMA ini memang begitu seksi menggiurkan atau sekel nan cemekel.

Tapi sadar akan kartunya yang sudah mati, selama ini Wahyudin hanya menelan ludah asal melihat Anida yang cantik dan manja itu. Jikalau dirinya masih bujangan, yakin dalam satu putaran sudah kena. Tapi untuk dirinya sekarang, dengan istri dan dua buntutnya, mana mungkin mendambakan Anida? Biar tiga putaran, pakai money politic sekalipun, takkan kena. “Yang bujangan saja banyak, ngapain cari yang bangkotan,” kan begitu alasan para gadis.

Tapi yang namanya milik dan rejeki, memang bisa datang secara tiba-tiba. Sepeti Wahyudin ini misalnya, ujug-ujug dimintai tolong orangtua Anida untuk mengajari naik sepeda motor. Maklum, keluarga itu baru punya motor baru. Beli tunai atau kreditan DP Rp 400.000,- itu bukan urusan Wahyudin. Yang jelas, dengan kesempatan mengajari naik motor, seakan terbuka peluang semuanya, termasuk membuka yang lain-lain juga.

Anida juga tak sungkan diajari Wahyudin, karena sudah cukup akrab dengan keluarga itu, termasuk istrinya. Pendek kata, tak adalah pikiran yang hil-hil dan mustahal. Dia yakin bahwa Wahyudin akan menjadi instruktur sepeda motor yang baik, yang mengajari dia naik motor secara tulus, tanpa maksud-maksud tertentu. “Kita belajar di daerah Tanjung Perak saja, yang jalannya lebar tapi sepi,” kata Wahyudin kemudian.

Wahyudin pun membawa motor bebek baru itu ke Tanjung Perak, sementara Anida membonceng di belakang. Di sebuah lapangan, pelajaran dimulai. Anida duduk di depan dan Wahyudin duduk di belakangnya, menempel ketat tubuh sigadis. Kapan harus memutar gas, kapan harus menginjak rem.

Untuk memastikan bagaimana cara pegang stang motor, tangan Wahyudin juga selalu memegang tangan sigadis yang mulus itu.

Karena posisi tubuh menempel ketat, dan Anida suka mengerem motor mendadak, lama-lama “ponakan” Wahyudin pun rewel. Mendadak sang instruktur jadi lupa akan tugasnya. Anida disuruh pindah ke boncengan, dan sepeda motor dilarikan ke sebuah hotel. Awalnya Anida tak mau masuk, tapi karena dipaksa terus, akhirnya masuk juga ke dalam. Apa yang terjadi kemudian, bisa diduga. Wahyudin yang tadinya mengajari naik motor Aneda, justru sekarang gadis itu yang “dinaiki”-nya.

Sejak kejadian itu Anida menjadi pemurung, dan tak bergairah lagi dengan sepeda motor barunya. Tentu saja sang ayah menjadi curiga. Ketika didesak gerangan apa yang terjadi, gadis itupun bercerita bla bla bla…… Tak ayal lagi Wahyudin dilaporkan ke Polresta Tanjung Perak. Dalam pemeriksaan dia mengakui terus terang perbuatannya. “Tapi ini semua terjadi mau sama mau.” Kata Wahyudin.

Kamu yang mau beneran, dianya yang mau muntah…… (DS/Gunarso TS)