Thursday, 20 June 2019

Cinta Terpendam Pria Tetangga

Selasa, 17 Juli 2012 — 9:30 WIB
dia-sub

MARDI,34, dari Percut Sei Tuan (Sumut) ini aneh banget. Naik tangga saja takut, tapi naiki bini tetangga malah berani betul. Tapi gara-gara keberaniannya itu dia harus babak belur, karena dihajar para tetangga.

Dalam Ilmu Jiwa ada dikenal istilah Acrophobia, yakni orang yang takut ketinggian. Berdiri di tempat tinggi, dia menjadi singunen takut bila mana jatuh. Maka bagi penderita ini, janganlah jadi pemanjat kelapa, lantaran akan tersiksa karenanya. Paling celaka mahasiswa di era Orde Lama. Gara-gara takut ketinggian, sudah duduk di tingkat lima (doctoral) dia pilih turun lagi, he he he…..

Mardi yang tinggal di Batang Kuis Gang Famili Desa Sei Rotan Percut Sei Tuan, rupanya juga penderita Acrophobia. Gara-gara penyakit itu, dia tak berani memanjat tangga hanya untuk membetulkan genting bocor di rumahnya. Apa lagi memanjat pohon untuk menguduh mangga atau rambutan, amit-amit deh.

Uniknya, sementara naik tangga saja tak berani, dia justru bercita-cita bisa menaiki bini tetangga, Ida, 20, yang memang seksi menggiurkan. Dalam benaknya selalu terjadi perang batin. Mana yang lebih penting, antara moral dengan alat vital? Demi moral dan etika bertetangga, dia musti hidup yang lurus-lurus saja. Tapi bila demi alat vital, masak ada tetangga cantik lagi nganggur, kenapa mustik dibiarkan saja?

Sebetulnya Mardi yang perjaka tua, sudah lama jatuh cinta pada Ida yang nan seksi menggiurkan itu. Tapi untuk mendeklarasikan cintanya tidaklah berani. Di samping status dirinya yang berpenghasilan tak menentu, Ida sendiri sudah berstatus bini orang. Secara etika, ini kan tidak baik bila memaksakan kehendak, nyosor sembarang tempat. Ungkapan lama  mengatakan, kalau mau berak janganlah di kampung sendiri.

Gara-gara pertimbangan moral, Mardi harus meredam aspirasi alat vital. Awalnya bisa, tapi lama-lama tak mampu juga. Maklumlah, manakala melihat Ida belanja di warung sebelah, ukuran celana mendadak berubah. Si “Jendul” mendesak-desak, minta aspirasinya ditampung dan disalurkan, tapi Mardi selalu menolak dengan alasan situasinya tidak mengizinkan. Pusing Mardi, seperti pusingnya Muhaimin Iskandar menghadapi demo buruh.

Ida yang siang malam dikenang Mardi, sama sekali juga tak mengetahui gejala cinta terpendam sang tetangga, karena si perjaka tua itu masih mampu mengendalikan diri. Jadi sikapnya kepada Mardi selama ini ya biasa-biasa saja. Padahal bagi pihak terkait macam Mardi, senyum dan lirikan mata Ida mengandung sejuta makna.

Belum lama ini Bahrun, 25, suami Ida dapat pekerjaan ke Jakarta, sehingga untuk sementara waktu istri ditinggalkannya. Nah, di sinilah Mardi merasa bahwa peluangnya telah tiba. Mumpung sedang ada barang nganggur, kenapa tidak dimanfaatkan? Bukankah Komisi III DPR juga selalu menganjurkan, daripada bangun gedung baru, sebaiknya KPK menggunakan gedung pemerintah yang nganggur saja.

Mardi yang selama ini dengan sengaja selalu “membintangi” nafsunya atas diri Ida, kini mulai dilepas. Menjelang subuh, di kala Ida di rumah sendirian, dia segera masuk ke kamarnya dan main sergap, hip! Istri Barun mencoba meronta, tapi karena dipaksa dan diancam, akhirnya dengan leluasa Mardi berhasil melampiaskan gairah dan cintanya yang terpendam selama ini. “Jangan bilang suamiku, jika tak mau celaka,” ancam Mardi.

Tapi rupanya Ida tidaklah takut. Begitu lelaki tetangga itu keluar kamar, dia langsung berteriak, maling, maling! Tak ayal warga yang siap-siap ke mesjid, ramai-ramai menangkapnya. Tahu bahwa Mardi habis memperkosa bini orang, langsung digebuki. Dalam kondisi wajah simpang siur barulah perjaka tua itu diserahkan ke polisi.

Muda tak bahagia, jadi perjaka tua banyak bikin dosa. (SP/Gunarso TS)