Wednesday, 20 March 2019

Bini Cuma Satu-Satunya

Kamis, 19 Juli 2012 — 10:27 WIB
dia-sub

KURANG ajar! Bini cuma satu-satunya, dinikahi orang tanpa seizinnya. Pantas saja Muhidi, 31, jadi naik pitam. Gandi – Puji yang sedang mau bermalam pertama di hotel, langsung disatroni. Pasangan kawin siri yang sedang “pemanasan” itu dibacoknya bergantian. Mati sih tidak, tapi kini Muhidi jadi urusan polisi.

Orang Jawa punya ungkapan, perempuan itu Gusti Alahe dhuwit, Nabine jarit. Maksudnya, uang dan baju bagi kaun Hawa merupakan harta yang paling berharga. Makanya banyak pula wanita cantik mau menikah dengan lelaki jelek, karena bermotifkan harta. Biar nantinya “ngrusak keturunan” bukan masalah, yang penting dengan harta itu dia bisa kesampaian segala kehendaknya. Prinsipnya: demi materil siap mengorbankan onderdil.

Agaknya Puji, 26, termasuk wanita yang punya prinsip demikian. Dirinya yang punya penampilan jauh lebih baik dari nilai rata gadis sekampungnya, siap menikah dengan Muhidi yang bertampang pas-pasan. Tapi jangan salah, biar potongan dan jahitan nggak ketolong, dia merupakan pekerja yang berpenghasilan mapan. Sadar akan kelebihannya, Muhidi pede saja mendekati Puji yang banyak peminatnya. “Menaklukkan Puji, satu putaran juga selesai,” begitu tekad Muhidi.

Hanya pendekatan ala kadarnya, Puji yang merasa takkan sengsara bersuamikan Muhidi, siap naik ring. Singkat cerita keduanya pun menikah. Tapi yang namanya rejeki memang misteri Illahi yang tak bisa diprediksi. Mau datang, bisa dengan tiba-tiba. Mau pergi juga bisa dengan serta merta. Seperti Muhidi ini misalnya, baru beberapa bulan jadi suami istri, eh….kena PHK. Nganggurlah dia kemudian, tanpa ampun lagi.

Cari kerja di Surabaya bukan soal mudah. Satu-satunya formasi, hanyalah jadi kuli bangunan. Bayangkan, dari pekerja dari perusahaan swasta, jadi buruh bangunan yang harus bau semen dan berlepotan tiner dan cat minyak. Tapi daripada dapur nggak bisa ngebul, oleh lelaki warga Sidotapa ini dijalani juga.

Ternyata, Puji tak bisa menerima kenyataan seperti itu. Malu rasanya, orang cantik begini kok bersuamikan tukang batu, bagian kenek lagi. Di kala bimbang dengan posisi suami, dia berkenalan dengan Gandi, yang jauh lebih muda dan bermasa depan. Mendadakl sontan Puji lupa akan suami perdananya. Saat Gandi menyampaikan aspirasi urusan bawahnya, tanpa pikir panjang langsung diterima. “Tapi kita nikah siri saja ya,” tawar Puji lantaran menyadari akan statusnya.

Ibarat orang mau beli motor bagus, Gandi memang sudah kebelet segera ingin nyemplak dan main klakson. Maka persyaratan Puji pun diladeni. Pada seorang kiyai yang tak tahu asal-usul Puji, mereka minta dinikahkan.  Maka setelah menjalani “rukun”-nya nikah siri, hanya dalam hitungan menit dua sejoli itu sudah syah jadi suami istri, setidaknya ini di mata Pak Kiai.

Meski perkawinan siri ini sangat dirahasiakan, akhirnya bocor juga sehingga sampai didengar Muhidi. Tentu saja dia naik pitam. Bini hanya satu-satunya kok dikawin siri orang. Dengan mengajak Karsum, 34, kakaknya mereka mencari tahu di mana pasangan tukang serobot itu. Demi mendengar Puji – Gandi nginap di hotel Duta Baliem, langsung saja diserbu.Informasi itu tak meleset, sehingga pasangan yang sedang bermesraan di kamar itu langsung dibacoknya bet, bet, baru ditinggal kabur.

Dalam kondisi luka berat, Puji – Gandi dilarikan ke RS PHC, Perak. Mereka masih tertolong. Sedangkan Muhidi setelah dinasihati warga dan pengurus RT setempat, datang ke Polres Tanjung Perak untuk menyerahkan diri. Dalam pemeriksaan dia mengakui, emosinya meledak demi mendengar istrinya dikawin orang. “Puji bukan janda, saya masih hidup, enak saja dinikahi. Dianggap apa saya ini,” ujarnya berapi-api.

Dianggap tukang batu, ngkali. (KC/Gunarso TS)

  • http://twitter.com/achamaulana achamaulana

    Pos Kota ngak ada abisnya bikin ketawa sendiri kaya lanjutkan komedinya …..tak pernah lekang di makan jaman POSKOTA