Sunday, 23 September 2018

Pakar Astranomi Thomas Djamaludin

`Belum Ada Titik Temu Kriteria Lihat Posisi Hilal`

Jumat, 20 Juli 2012 — 17:30 WIB
thomas-sub

JAKARTA (Pos Kota) – Setiap tahun umat Islam Indonesia senantiasa dihadapkan kepada perbedaan dalam menentukan awal Ramadhan, 1 Syawal atau Idul Fitri dan 10 Dzulhijjah atau Lebaran Haji.

Persoalan itu terjadi karena adanya perbedaan dalam menentukan kriteria posisi hilal (bulan) karena memang kalender tahun hijriah didasarkan kepada peredaran bulan, sedangkan tahun masehi didasarkan kepada peredaran matahari.

Pakar astronomi Thomas Djamaludin yang dihubungi, Jumat sore, mengatakan sebetulnya perbedaan itu tidak akan terjadi kalau adanya persamaan kriteria antara Muhammadiyah dan pemerintah dalam melihat posisi hilal.

“Kalau persamaan kriteria itu sudah disepakati maka kita bisa membuat kalender hijriah untuk penentuan awal Ramadhan, 1 Syawal dan 10 Dzulhijjah untuk sepuluh tahun yang akan datang,” Thomas.

Menurut dia, kalau kita sudah membuat kalender hijriah seperti itu maka tidak perlu adanya Sidang Istbat, cukup tim kecil dari Kementerian Agama yang langsung mengumumkan awal Ramadhan, 1 Syawal dan 10 Dzulhijjah.

Namun, kata dia, karena sampai sekarang belum ada titik temu kriteria dalam penentuan posisi hilal, maka akan terjadi terus perbedaan dan kita akan terus Sidang Istbat.

Di mana kriteria perbedaan itu?, Thomas menjelaskan Muhammadiyah memberikan kriteria kalau bulan sudah di atas nol derajat di atas ufuk maka itu sudah masuk bulan baru.

“Kalau NU dan organisasi Islam lainnya berpandangan kriteria masuknya bulan baru kalau posisi hilal sudah berada¬† minimal dua derajat di atas ufuk, jarak antara bulan dan matahari tiga derajat dan usia bulan sudah delapan jam,” ujar Thomas.

Dikatakannya, karena masih ada perbedaan inilah umat Islam akan terus menghadapi perbedaan dalam menentukan awal Ramadhan, 1 Syawal dan 10 Dzulhijjah. “Kita sudah bertemu sejak Tahun 1990 untuk menyamakan kriteria tapi tetap tidak ada titik temu,” katanya.

(johara/sir)