Wednesday, 14 November 2018

KH Agus Dermawan Ajak Umat Islam

Menghias Diri Saat Berpuasa

Jumat, 20 Juli 2012 — 11:08 WIB
agus-sub

MANUSIA membutuhkan perhiasan dalam kesehariannya. Perhiasan lahiriah maupun batiniah. Tanpa perhiasan, nilai seseorang di mata orang lain akan dianggap rendah.

“Begitu juga di bulan Ramadhan, umat Islam harus menghiasi dirinya dengan perhiasan akhlak, yaitu adab-adab saat berpuasa,” kata KH Agus Dermawan, Ketua Forum Silaturahmi Takmir Mesjid dan Musola (Fammi Tamami) DKI Jakarta.

Menurut KH, panggilan akrab KH Agus Dermawan, bagi orang yang berpuasa terdapat beberapa adab (aturan) yang selayaknya dijalankan, agar tercapai keselarasan dengan perintah-perintah syariat dan terealisasi maksud pelaksanaan ibadah tersebut.

“Di samping sebagai latihan bagi jiwa dan pembersihannya, maka sudah seharusnya orang yang berpuasa berupaya serius dalam merealisasikan adab puasa secara sempurna dan menjaganya dengan baik. Karena kesempurnaan ibadah puasa sangat tergantung dengannya dan kebahagiaan juga sangat terkait dengan dirinya sendiri,” kata Pengasuh Yayasan Yatim Piatu Maulida Fitria, Jatibening ini.

SAMBUT GEMBIRA
Di antara adab yang perlu dilakukan, sambutlah Ramadhan dengan bangga, gembira, dan bahagia. Karena bulan puasa termasuk karunia Allah dan rahmat-Nya kepada umat manusia.

Allah berfirman, “Katakanlah dengan keutamaan Allah dan rahmat-Nya maka dengan itu bergembiralah kalian.” (QS Yunus: 58)
Yang perlu kita lakukan, memuji Allah yang telah menyampaikan kita kepada bulan Ramadhan, meminta pertolongan Allah agar membantu kita dalam pelaksanaan puasanya.

“Saat berpuasa, seorang muslim harus berusaha memperbanyak amal soleh, seperti memperbanyak sedekah, zikir, salat malam, membaca Alquran, membantu orang, memberi makan bagi yang berpuasa. Karena Ramadhan merupakan furshoh (kesempatan) memperbanyak amal soleh sebagaimana dicontohkan Rasulullah dan para sahabatnya,” kata kiai yang kerap tausiah di Metro TV dan TVRI ini.

JAUHKAN DARI DUSTA

Menurut KH, kita juga mesti menjauhkan diri dari sesuatu yang menyalahi hikmah puasa. Karena hikmah yang disyariatkan puasa adalah mencapai derajat takwa. Seorang akan mencapainya jika dia menjauhkan dirinya dari dusta, berkata-kata jorok dan kotor, bertengkar, berkelahi, menghina, menonton aurat wanita baik langsung atau lewat TV, serta gambar lainnya.

Rasulullah bersabda, “Jika seorang di antara kalian berpuasa di suatu hari, maka janganlah ia berkata-kata jorok, dan berbuat jahil. Bila ada seseorang yang mencela atau melawannya, maka hendaknya ia berkata, ‘Sesungguhnya aku sedang puasa, sesungguhnya aku sedang puasa’.” (HR. Muslim)

“Di antara amal soleh yang terpuji, yakni memberi buka puasa kepada orang yang berpuasa, karena mengharapkan pahala dari Allah. Bila itu kita lakukan, maka akan mendapat pahala seperti orang yang berpuasa itu, sementara pahala puasanya sendiri tidak akan berkurang,” tambah KH Agus Dermawan.

(dirham)