Sunday, 23 September 2018

Pengendali Nafsu

Jumat, 20 Juli 2012 — 9:52 WIB

Assalamu`alaikum Wr.Wbr.
SEBAGAI manusia biasa, terkadang hawa nafsu masih mendominasi gerak kehidupan kita. Apapun dilakoni untuk menuruti sesuatu keinginan, meski pun itu dengan cara bathil serta menganggu orang lain. Tapi karena nafsu, seseorang mau berbuat curang, merampas hak orang lain, mendzolimi serta melakukan korupsi hanya untuk memenuhi tuntutan hawa nafsunya sendiri.

Melalui ibadah puasa, segala sesuatunya akan dikendalikan. Hawa nafsu bukan berarti dibunuh atau dimatikan, namun hendaknya dikendalikan sesuatu ajaran Islam.
Boleh kita petik hikmah dari  yang halal bisa jadi haram pada saat puasa. Artinya,  tidak boleh dikerjakan oleh seseorang yang sedang berpuasa. Contoh, larangan makan dan minum pada siang hari, padahal asal makan dan minum itu adalah hasil jerih payah kita sendiri. Bukan hasil mencuri atau merampok, tapi itu  pun dilarang untuk dikonsumsi, karena akan membatalkan ibadah puasa.

Demikian juga hubungan suami-istri pada siang hari, dan lain-lainnya. Tidak dibolehkan atau lebih tegasnya diharamkan. Kemudian, puasa mempunyai batas waktu, mulai dari imsak hingga waktu berbuka puasa (magrib). Sementara pada malam harinya, aktifitas kembali normal.

Kenapa puasa tidak 24 jam? Allah SWT telah memberikan pertimbangan dan mengetahui kemampuan manusia, apalagi untuk menjaga hawa nafsunya. Karena itu, puasa disesuaikan dengan kadar kemampuan manusia itu sendiri, yakni pada siang hari. Namun demikian, selama sebulan penuh dianjurkan untuk memperbanyak amal ibadah, karena ganjarannya berlipatganda dari Allah SWT.

Makna hakikinya adalah, puasa sebagai ibadah yang dapat mengendalikan hawa nafsu, agar manusia agar tidak rakus, tamak dan sombong. Tidak mentuhankan hawa nafsunya, tapi selalu mengedepankan nilai-nilai ketaqwaan kepada Allah SWT. Untuk itulah, diperlukan obat hati yakni ibadah puasa.

Hati sakit berupa dengki, hasut dan iri, tentu obatnya adalah puasa. Laksanakan dengan ikhlas dan sabar. Tidak ada obat lain kecuali menunaikan ibadah puasa.

Saudaraku….
Firman Allah SWT: “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?.” (QS Al Jaatsiyah 23)

Mari kita renungkan ayat di atas, dalam konteks kehidupan kita sehari-hari… Insya Allah.

Wassalam
syamsir_bastian@yahoo.com