Wednesday, 21 November 2018

Coba Bunuh Pasiennya

Mengaku Dukun Pengganda Uang Ditembak Polisi

Sabtu, 21 Juli 2012 — 1:25 WIB
ilusmengaku

SEMARANG ( Pos Kota ) – Lelaki yang mengaku dukun sakti dibekuk polisi setelah berupaya membunuh pasiennya . Edi Sihayanto,43, warga Geneng, Kelurahan Geneng, Kecamatan Mijen, Kabupaten Demak, mengaku dukun pengganda uang itu terpaksa ditembak kakinya karena berupaya kabur saat disergap polisi .

Sang dukun yang kini meringkuk di sel tahanan Mapolsek Tembalang Semarang itu sebelumnya ditangkap dalam sebuah penggrebekan yang dilakukan oleh anggota Reskrim Polsek Tembalang.

Edi Sihayanto diburu polisi karena mencoba membunuh Purwantini,48, seorang janda yang tinggal di Perumnas Banyumanik, Semarang Sabtu dinihari lalu (14/7).

Kepada polisi Edi Sihayanto mengaku melakukan percobaan pembunuhan itu karena ingin memiliki sepeda motor milik korban. Selain itu, ia merasa ditekan karena selalu ditagih hasil penggandaan uangnya. Ia mencoba membunuh korban dengan menjerat leher korban dengan seutas tali plastik.

“Dia saya jerat lehernya dengan tali yang sudah saya bawa dari rumah. Tapi saat menjerat, saya ketahuan oleh orang yang sedang mencari belalang,” ujar Edi Sihayanto kepada polisi. Karena aksinya ketahuan warga, Edi Sihayanto pun kabur menggunakan sepeda motor Honda Supra X 2004 nopol H 6909 AR milik korban.

Menurut Edi, korban terus menagih hasil penggandaan uangnya . Korban sebelumnya menyerahkan uang senilai Rp 2,5 juta untuk digandakan . Tetapi saat ditagih ternyata sang dukun terus mengelak , bahkan akhirnya bermaksud membunuh korbannya . Usaha pembunuhan itu dilakukan tersangka dengan cara mengajak korban dan berpura-pura melakukan ritual untuk menggandakan uang .

Saat korban lengah , tersangka menjerat leher korban . Tetapi usaha pembunuhan itu keburu diketahui orang lain sehingga dukun palsu itu nekad kabur . Antara korban dan tersangka berkenalan di kawasan Simpanglima .

Ketika itu korban terkesima oleh penampilan tersangka yang mengaku dukun saksi pengganda uang . Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, tersangka dijerat dengan pasal 365 KUHP dan pasal 53 jo Pasal 340 KUHP dengan ancaman hukuman maksimal 12 tahun penjara. ( Suatmadji )