Sabtu, 21 Juli 2012 20:38:19 WIB

32 ABG Terkena HIV/AIDS

Ratusan Pelajar Jadi Pelacur di Cianjur

ratusan

CIANJUR (Pos Kota) –  Praktik prostitusi di Kota Cianjur, Jawa Barat,  kian mengkhawatirkan. Ratusan pelacur tersebar di sejumlah sudut kota berudara sejuk itu untuk mencari mangsa.

Tak hanya wanita dewasa, kalangan remaja (ABG) bahkan yang masih berstatus pelajar tak sedikit yang terlibat dalam bisnis esek-esek tersebut. Lebih parah lagi ratusan pelacur di sana ditengarai mengidap HIV/AIDS.

Fakta itu setidaknya terungkap dari hasil temuan Komisi Perlindungan  Anak Indonesia (KPAI). Lembaga ini malah menyebutkan  32 wanita muda menemui ajal akibat penyakit AIDS sepanjang tahun ini imbas dari maraknya praktik pelacuran.

“Hasil survei Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur, ada 295 yang positif kena HIV/AIDS. 32 Orang sudah meninggal dunia, mereka masih berusia muda. Sisanya sedang dalam perawatan medis di RSUD Cianjur dan RS Cimacan,” kata Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Cabang Kabupaten Cianjur, Hilman, Sabtu (21/7) siang.

Hilman menambahkan pergaulan bebas dan praktik pelacuran mendominasi faktor pemicu tingginya angka orang pengidap HIV/AIDS di kota tersebut. Ia juga mengakui, ada beberapa titik di Cianjur, yang memang menjadi lokasi esek-esek wanita pekerja seksual.

“Saya akui, di Cianjur memang ada lokasi prostitusi. Alasan mereka saat ditangkap petugas sangat klasik, yakni menghidupi anaknya karena sudah menjada ditinggal cerai suami,” paparnya.

Di kalangan ABG, urusan ekonomi  juga dijadikan alasan  mereka untuk terjun ke lembah hitam, menjajakan cinta  kepada para lelaki hidung belang. Dengan tarif  sekali kencan, Rp 200 sampai Rp 300 ribu, para pelacur belia ini siap menemani tidur  mereka yang membookingnya.  Bila dalam satu malam para gadis muda ini mampu melayani lebih dari satu lelaki, bisa dibayangkan pundi rupiah yang masuk ke kantong mereka.

Dengan uang hasil ‘kerja’ itu, mereka bisa memperoleh apa yang menjadi keinginannya yang selama ini tak pernah disanggupi oleh orangtua para pelacur berusia muda ini. Membeli pakaian, perhiasan dan beragam peralatan elektronik mini (gadget) bahkan membayar biaya sekolah dapat mereka penuhi tanpa harus meminta orangtua.

800 PELACUR
Dari data yang dihimpun, di Kota Cianjur setidaknya terdapat 800 pelacur yang tersebar. Sepanjang hari terutama pada hari libur kawasan Cianjur yang sejual dipadati pengunjung. Maklum udaranya sejuk, sehingga banyak pengunjung yang membutuhkan teman kencan.

Untuk  mencegah angka penderita penyakit mematikan ini, pihak KPAI Cianjur telah  melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah. Bekerjasama dengan forum peduli HIV/AIDS yang anggotanya kebanyakan guru. Pihaknya mendatangi satu demi satu sekolah.

“Dalam sosialisasi itu kami beri pengertian kalau berhubungan badan di usia pelajar sangat tidak dianjurkan atau dilarang,” katanya. “Kami beri pengertian ke siswi-siswi di sana, menjaga kehormatan dirinya lebih penting dan mulia. Soalnya tubuh itu indah dan pemberian Tuhan harus dijaga. Kami sentuh dari sisi hukum melanggar. Kami juga sentuh dari sisi agama.”

IBU RUMAH TANGGA
Sementara itu,  Ketua Forum Konselor HIV/AIDS Kabupaten Cianjur, Cicih Kurniasih,  kepada Pos Kota menuturkan, selain kalangan pelajar dan PSK, penularan penyakit ini juga merambah kekalangan ibu rumahtangga.

Data pada pihaknya hingga pertengahan tahun 2012, sudah 20 orang yang kena penyakit ini. Enam puluh persen adalah pelajar. “Dari jumlah ini, tujuh diantaranya ibu rumah tangga yang masih memiliki suami dan anak,” kata Cicih.

Lebih tragis lagi, ada juga tiga  siswi pelajar SD yang positif HIV/AIDS. Mereka masih duduk dibangku kelas 1-4. Bahkan bulan kemarin, ada dua bayi yang berusia 6 bulan dan 1,6 tahun meninggal karena mengidap penyakit ini.
“Penularannya dari ibunya yang jualan di tempat esek-esek. Ketika di rumah, ia dengan suaminya berhubungan badan. Menular ke suami dan anak yang baru lahir. Ini sangat tragis,” paparnya.

Selain pelajar, pihaknya juga menemukan dua  mahasiswa yang juga terkena penyakit ini. Mereka mengaku, mau berhubungan badan di luar aturan resmi, karena pergaulan yang ingin hidup mewah.

“Orangtau nggak bisa ngasih lebih, sementara ingin gaya, makanya mereka tempuh jalan pintas. Saat saya berbicara dari hati ke hati, ada yang menyesal dan mau bertobat, tapi ada juga yang bilang, ah sudah terlanjur jadi kumaha weeeh,” kata Cicih sedih sambil menambahkan, ada siswi SMP yang sampai alat vitalnya terus mengeluarkan darah ketika datang ke dirinya.

(yopi/yahya/sir)

Baca Juga

© "Poskota", "Poskota Online" adalah merk dagang milik PT. Media Antarkota Jaya. Poskota diterbitkan oleh PT.Media Antarkota Jaya sejak 15 April 1970 di Jakarta. Izin Usaha: SIUPP No. 0088/SK/Menpen/SIUPP A/7 1986 13 Maret 1986.