Friday, 21 September 2018

Tahu dan Tempe Terancam Langka di Sukabumi

Rabu, 25 Juli 2012 — 19:07 WIB
Tahu Tempe-n

SUKABUMI (Pos Kota) – Gara-gara harga kacang kedelai meroket, tahu dan tempe terancam langka di Sukabumi, Jawa Barat. Kondisi ini menyusul para perajin tahu dan tempe Kota/Kabupaten Sukabumi akan menggelar mogok produksi selama tiga hari, mulai  1 Agustus hingga 3 Agustus mendatang.

Aksi mogok kerja perajin tahu tempe ini sebagai bentuk tuntutan mereka agar pemerintah turun tangan untuk mengendalikan harga kedelai. Harga kacang kedelai semakin melambung tinggi hingga mencapai sebesar Rp 8 ribu per kilogram. Malah, di tingkat pengecer harga kedelai menembus Rp 8.200 perkilogramnya. Sebelum kenaikan, harga kedelai hanya dijual antara Rp 5.000 hingga 5.500 per kilogram. Sebagian besar kedelai yang digunakan para perajin tahu dan tempe berasal dari impor.

Manajer Koperasi Tahu dan Tempe Indonesia (Kopti) Sukabumi, Muhammad Badar menjelaskan, aksi mogok produksi ini agar pemerintah dan masyarakat mengetahui permasalahan yang menimpa para perajin tahu dan tempe. Soalnya, Badar menuding pemerintah terkesan mengabaikan keluhan perajin terkait kenaikan harga kedelai.

“Semua perajin tempe dan tahu sudah sepakat akan mogok produksi selama tiga hari. Keputusan ini merupakan kesepakatan ratuasan perajin se Kota/Kabupaten Sukabumi,” kata Badar kepada wartawan, Rabu (25/7).

Usai mogok produksi, lanjut Badar, para perajin berencana akan menaikkan harga tahu dan tempe yang akan disesuaikan dengan lonjakan harga kedelai sekitar 40 persen dibandingkan kondisi normal.  “Para perajin juga akan mengurangi ukuran tahu dan tempe. Langkah ini terpaksa diambil untuk menghindari kerugian akibat mahalnya kedelai,” tegasnya.

Sujaman, produsen tempe di Kampung Cijangkar, Kota Sukabumi mengakui sudah sepekan terakhir mengurangi produksinya. Langkah ini terpaksa diambil Sujaman karena harga bahan baku kedelai yang melambung. Tak hanya itu, Sujaman juga terpaksa memberhentikan seorang karyawannya.

Menurutnya, pada kondisi normal per harinya bisa memproduksi 4,5 kuintal kedelai. Namun, sudah beberapa hari terakhir hanya 4 kuintal. “Saya mempekerjakan karyawan empat orang. Setelah harga kedelai naik, jumlah pembeli itu terus mengalami penurunan. Saya hanya bisa berharap harga kedelai kembali normal,” tandasnya. (sule/dms)