Thursday, 20 September 2018

Perajin Tahu-Tempe di Sukabumi Mogok Produksi

Rabu, 1 Agustus 2012 — 23:18 WIB
ilusperajin

SUKABUMI (Pos Kota) – Jika di daerah lain perajin tahu dan tempet sudah berhentik mogok prodiksi, namun ratusan perajin tahu-tempe di Sukabumi, Jawa Barat justru mulai mogok produksi Rabu (1/8). Rencananya mereka menuntut pemerintah menurunkan harga kedelai ini akan berlangsung hingga Jumat (3/8) mendatang.

Ketua Forum Masyarakat Pengrajin Tahu Tempe Sukabumi, Dadang Jamaludi mengatakan dalam aksi mogok produksi massal hari pertama ini baru diikuti oleh 80 persen perajin tahu-tempe. Sisanya, sekitar 20 persen masih memproduksi.

“Baru 80 persen pada hari ini melakukan aksi solidaritas mogok produksi. Yang belum ikut karena kekhawatiran tidak bisa mendapatkan penghasilan baik untuk dirinya sendiri maupun karyawannya,” kata Dadang.

Ditegaskan Dadang, aksi solidaritas mogok produksi ini sebagai bentuk protes kepada pemerintah yang hingga saat ini belum mampu mencarikan solusi menurunkan harga kedelai. Dikatakan Dadang, dengan aksi ini diharapkan pemerintah bisa segera memberikan solusi yang tepat perajin tahu-tempe dengan cara mengembalikan harga kedelai ke asal.

Manajer Koperasi Tahu dan Tempe Indonesia (Kopti) Sukabumi, Muhammad Badar, menuturkan sebelum melakukan aksi mogok produksi para perajin kedelai sudah menyuarakan aspirasi terkait kenaikan harga kedelai ke Dinas Koperasi, Perindustrian, Perdagangan, dan Pasar (Diskoperindagsar) Kabupaten Sukabumi pada Mei 2012 lalu. Hanya saja, aspirasinya waktu itu tidak berpengaruh kepada lonjakan harga kedelai. Pada Mei lalu, harga kedelai hanya Rp 6.500 per kilogram. Namun, kini harga makin naik menjadi Rp 8.000 per kilogram.

Disebutkan Badar, jumlah perajin tahu dan tempe yang ada di Kota/Kabupaten Sukabumi mencapai sekitar 300 orang perajin. Dari jumlah itu sejak kenaikan harga kedelai sudah ada yang tidak bisa berproduksi secara normal.

Menurut Badar, biasanya pada kondisi normal permintaan kedelai mencapai sekitar 12 ton per pekan. Sedangkan saat ini hanya sebesar 8 ton per minggu.

Di lain sisi, kendati produsen tahu-tempe mogok produksi namun makanan khas Indonesia itu masih ditemui di pasaran, kendati jumlahnya cukup terbatas. Tak hanya harganya lebih mahal, ukurannyapun lebih kecil.

“Kami memperoleh pasokan dari luar kota sepeti Bogor. Tapi memang pasokannya sedikit. Harganya saja yang naik serta ukurannya lebih kecil,” aku Asep Nurdin, pedagang tahu-tempe di Pasar Cibadak. (sule)